Penguasaan emosi masing-masing anak tentu berbeda. Ada anak yang sejak kecil sangat santai, tidak mudah terpengaruh keadaan emosinya, dan kalem-kalem saja. Tapi, ada type anak yang begitu mudah marah, mengamuk, bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri. Letupan kemarahan inilah yang sering kita sebuat sebagai temper tantrum.
Temper tantrum, biasanya terjadi pada 4 tahun pertama usia anak. Ekspresinya bisa berupa gabungan tingkah laku menangis, memukul, membuat tubuh kaku, melempar barang, menjerit, berguling-guling, atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu.
Biasanya, anak-anak akan lekas marah jika ia dikritik oleh orang tuanya meski jelas-jelas ia berbuat kesalahan. Kita sendiri sebagai orang tua pasti pernah bahkan mungkin sering mengkritik anak-anak kita sehingga membuatnya patah semangat, marah, dan akhirnya semakin menarik diri.
Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi; dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar bagaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasan kita; bagaimana berpikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi; serta bagaimana membaca dan mengungkapkan perasaan, harapan dan rasa takut.
Pada masa balita, pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sangat cepat. Masa seperti ini tidak akan terulang lagi pada kehidupan selanjutnya. Karena itu perhatian yang diberikan pada masa balita sangat menentukan kualitas kehidupan manusia dimasa depan.
Anak-anak balita sangat rawan mengalami kecelakan ringan maupun berat. kecelakaan ringan yang saya maksudkan adalah terjatuh, terpeleset, kejedut, dan lain sebagainya. Rata-rata respon mereka saat mengalami kecelakaan ini adalah dengan menangis.
Apa yang biasanya dilakukan oleh orangtua jika anaknya menangis karena kecelakaan ini. Tidak jarang para orangtua berusaha menenangkan anak-anaknya dengan memukul benda-benda yang mengenai mereka.