Pendidikan & Psikologi

Mengkritik Anak Tanpa Dibenci

 

Mengkritik Anak Tanpa DibenciBiasanya, anak-anak akan lekas marah jika ia dikritik oleh orang tuanya meski jelas-jelas ia berbuat kesalahan. Kita sendiri sebagai orang tua pasti pernah bahkan mungkin sering mengkritik anak-anak kita sehingga membuatnya patah semangat, marah, dan akhirnya semakin menarik diri.

Sebagai orang tua, kita dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Kita tidak bisa sembarangan memberikan kritikan, mencela apa-apa yang dilakukan anak, meski itu sudah jelas kesalahannya.

Bagaimana cara menyampaikan kritik tanpa harus “dibenci” oleh anak?

Sampaikan secara tidak langsung. Misalnya, anak-anak Anda yang besar ribut, sementara Anda harus menidurkan bayi Anda. Anda mungkin akan meresponnya dengan marah atau mengusirnya pergi. Tentu mereka akan balas merespon Anda dengan marah dan menggerutu bukan? Anda mungkin bisa memberi mereka sebuah bola, dan berkata, “Ibu akan senang jika kalian bermain bola di luar”. Anak-anak Anda akan tahu bahwa mereka telah berbuat keributan, namun mereka akan senang karena Anda tidak menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka. Anda justru memberi mereka hadiah, yang dengan itu mereka akan menghargai usaha Anda dengan bermain di luar, tanpa harus merasa marah.

Berikan pujian yang tulus dan hilangkan kata “tetapi”. Sering kali, kita memberikan kritik dengan didahului oleh pujian, kemudian mengiringinya dengan kata “tetapi”, kemudian mengakhiri dengan pernyataan kritik. Hal tersebut seolah Anda meninggikannya, lalu menjatuhkannya sampai titik terendah. Tujuan atas kritik tersebut tentu takkan tercapai. Jika Anda ingin memuji, maka pujilah yang tulus. Ganti kata “tetapi” dengan kata “dan”. Misalnya, nilai anak Anda menurun pada ujiannya semester ini, karena kecerobohannya. Anda mungkin akan memujinya, “Ibu senang, nilaimu bagus pada semester ini. Tetapi, jika kamu mau berusaha, kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik lagi”. Anak Anda mungkin senang karena Anda memujinya, tapi, itu hanya sampai pada kata sebelum “tetapi”. Ketika ia mendengar kata “tetapi”, ia akan meragukan kejujuran Anda dalam memujinya. Coba gunakan kata “dan” untuk membuatnya lebih percaya pada ketulusan Anda. Misalnya, “Ibu bangga karena nilaimu bagus semester ini, dan dengan berusaha keras, ibu yakin, semester depan kamu bisa juara kelas”.

Berikan contoh. Anda pasti kesal, jika anak-anak Anda bermain hingga membuat rumah berantakan dan meninggalkannya begitu saja setelah selesai. Jika Anda marah, mereka mungkin saja mengerjakannya untuk Anda. Tapi, tentu dengan kemarahan yang sama. Coba berikan mereka contoh. Anda bereskan mainannya hingga benar-benar rapi. Lalu, jika esok mereka ingin mulai bermain lagi, katakan pada mereka, “Ibu senang sekali kalian bermain dengan sangat bertanggungjawab seperti kemarin. Terimakasih telah membuat rumah kembali bersih”. Secara spontanitas, mereka tahu Anda sedang mengkritik mereka. Namun, karena Anda tidak menyebutkan kesalahan mereka secara langsung, mereka akhirnya memberikan timbal balik dengan cara selalu merapikan mainan setelah selesai bermain.

Sesuatu yang sederhana, bukan? Kuncinya hanya satu: perbaiki kemampuan komunikasi Anda dengan anak. Mari, kita bersama-sama meredam rasa marah, kesal, frustrasi, atas tingkah laku yang tidak mengenakkan. Kita coba menjadi lebih bijak. Karena kitalah orang  tua mereka, dimana mereka akan melihat dan mencontoh cara kita mendidik anak-anak. Jika kita salah dalam memberikan contoh, maka kelak mereka juga akan salah dalam mendidik anak-anak mereka. Lantas, bagaimana kita bisa mewujudkan generasi yang terbaik jika begitu?

 

Sumber Gambar : http://www.viu.es/blog/uploads/2015/02/iStock_000026425810_Large-1024x681.jpg