psikotestTes IQ ( Intelligence Quotient ) adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Tes IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Mengenai pembagian  tes IQ ada macam-macam.
1. Penggolongan menururt C.Thomson dkk. Dalam bukunya “Educational Pysichologi”
a. Above 140 Near genius or genius ( hampir genius atau genius)
b. 120-140 Very superior (sangat superior)
c. 110-120 Superior
d. 90-110 Normal or average (normal atau rata-rata)
e. 80-90 Dullness, rarely classifiable as feeble-mindedness(Bodoh, jarang digolongkan sebagai lemah pikiran)
f. 70-80 Borderline deficiency, sometimes classifiable asdullness, often feeble-mindedness ( pada batas gangguan mental, kadang-kadang dapat digolongkan bodoh, sering lemah pikiran)
g. Below 70 Definite feeble-mindedness (lemah pikiran betul-betul)

Feeble-mindedness dibagi lagi sebagai berikut:
a. 50-70 Morons (Moron)
b. 25-50 Imbeciles (Imbesil)
c. Below 25 Idiots (Idiot)

2. Penggolongan menurut L.M. Terman dan M.A. Merril yang dikutip Paul Schwartsz dalam bukunya “Psychology”
a. 160-169 )
150-159 ) Very Superior
140-149 )
b. 130-139 )
120-129 ) Superior
c. 110-119 ) High Average (rata-rata tingkat atas)
d. 100-109 )
90 -  99 ) Normal or Average (normal atau rata-rata)
e. 80-89 Low average (rata-rata tingkat bawah)
f. 70-79 Borderline defective (pada batas kerusakan mental)
g. 60-69 ) Mentally defective (terganggu mentalnya)
50-59 )
40-49 )
30-39 )

Kesimpulannya, pada dasarnya sama walaupun ada beberapa variasi. Perhatikan IQ yang disebut
normal dan “feeble mindedness” (mentally defective) pada penggolongan menurut C.Thomson
dan penggolongan menurut Terman dan Merril hampir sama.

Manusia memiliki dua aspek yaitu aspek jiwa dan raga. Artinya manusia itu merupakan kesatuan jasmani dan rohani sekaligus. Kenyataannya membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa rohani dibarengi atau berakibat peristiwa-peristiwa jasmani, dan sebaliknya. Contoh bila kitra berfikir tentang rujak, air liur lalu keluar.

Bertitik tolak pada kenyataan ini, hubungan jasmani rohani tersebut, jelaslah bahwa kecerdasan seseorang akan berhubungan erat dengan kondisi tubuhnya, terutama susunan otaknya. Atas dasar ini maka jelas selama ada perubahan kondisi tubuh maka kecerdasan akan berubah. Contohnya kecerdasan akan berkembang selama tubuh si anak termasuk otaknya masih dalam masa perkembangan. Kecerdasan akan menurun pula bila ank hidup dalam lingkungan yang lebih rendah (jelek).Sebaliknya kecerdasan akan meningkat bila anak pindah pada lingkungan (keluarga)yang baik.

Psikotes tidak sama dengan tes IQ. Tes IQ hanya merupakan bagian dari psikotes. Contoh hal-hal yang di tes dalam tes psikotes.
a. Inteligensi
b. Sosiabilitas
c. Stabilitas
d. Potensi kepemimpinan
e. dan sebagainya
Jadi tes IQ merupakan bagian dari psikotes.

Mentally retarded (feeble-mindedness) bisa retardasi mental dapat juga karena keturunan, pengaruh kondisi badan ibu selama mengandung, dan dapat juga karena sebab-sebab yang sulit
ditentukan.

Hal-hal yang menjadi penyebab retardasi mental menurut Raleigh M. Drake dalam bukunya “Abnormal Psychology” adalah sebagai berikut:
1. Alcoholism of the parents (orang tua peminum)
2. Syphilitic infection (kena infeksi sipilis)Feeble-minded (mentally retarded parentage (orang tua yang lemah otak)
3. Brain injuries at or before birth (luka otak ketika lahir)
4. Posion caused by diphteria, measles, encephalitic, pneumonia, influenza, and whooping cough (keracunan disebabkan oleh difteri, campak, encephalitis, radang paru-paru, influensa, dan batuk rejan.
5. Epilepsy (ayan)
6. Barain tumors (tumor otak)
7. Endocrine disfunctions (kemacetan fungsi endokrin)

Sumber:

  • Mengatasi kesulitan-kesulitan dalam pendidikan anak Oleh Suhartin R.i. Drs., Penerbit Gunung Mulia, 2004
  • Sumber: Intelegensi dan IQ | Pendidikan http://keluargacemara.com/pendidikan/pendidikan-anak/intelegensi-dan-iq