Ketika menjelang melahirkan anak pertama, saya mengalami pendarahan. darah yang keluar memancar seperti air kencing. Wah betapa kagetnya saya ketika itu, kenapa begitu banyak darah yang keluar, dan tiba-tiba disertai oleh nyeri hebat. dan ternyata melahirkannya baru saja terjadi seminggu kemudian. setelah diperiksa ternyata terjadi pendarahan pada jalan lahir, bukan dari dalam rahimnya. wah syukurlah. Bagaimana dengan anda? apakah anda pernah mengalaminya?

Persalinan memang selalu mempunyai risiko terjadinya suatu pendarahan (blooding). Terkadang pendarahan tersebut bisa segera di monitor dan segera diatasi namun terkadang juga sulit. Apa saja yang menjadi faktor penyebab terjadinya suatu pendarahan setelah melahirkan? Dapatkah hal tersebut dicegah? Bagainama sebaiknya yang harus dilakukan?

Pendarahan sesudah melahirkan adalah perdarahan yang terjadi sesudah anak lahir ,dapat terjadi dalam 24 jam pertama atau sekunder sesudah itu. Normalnya tidak lebih dari 500 cc.
Pendarahan terjadi karena semua pembuluh darah didalam rahim terutama di daerah menempelnya plasenta atau ari-ari terbuka karena proses melahirkan sehingga darah akan mengalir dengan deras.

Penyebab
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya pendarahan sesudah melahirkan, diataranya adalah :

1. Atonia Uteri (tonus uterus)

Suatu istilah yang menyatakan kurang baiknya otot rahim untuk berkontraksi atau malahan tidak berkontraksinya otot rahim setelah persalinan sehingga perdarahan akibat lepasnya plasenta dari rahim tidak dapat dihentikan. Kontraksi otot rahim dibutuhkan untuk menjepit pembuluh darah yang terbuka karena proses melahirkan dan juga diperlukan untuk mengembalikan ukuran rahim ke ukuran normal seperti sebelum melahirkan.

Resiko terjadinya atonia uteri meningkat pada ibu hamil yang mengalami anemia (Hb kurang dari 10,5 g/dL). Gangguan lain juga disebabkan karena rahim teregang terlalu besar (misalnya pada bayi yang terlahir dengan berat badan cukup besar yakni lebih dari 4 kg, kehamilan kembar), air ketuban ibu meningkat 10x (polihidramnion) sehingga rahim menjadi lebih teregang dan menyebabkan resiko persalinan prematur, terdapat infeksi pada rahim, juga adanya tumor dalam otot rahim (mioma uteri).

Proses persalinan yang terlalu cepat, adanya riwayat dirangsang proses persalinan sehingga kontraksi yang timbul karena rangsangan obat, dan jumlah anak yang sudah pernah dilahirkan banyak sehingga rahim sudah lelah untuk berkontraksi juga menjadi faktor yang menyebabkan gangguan tersebut.

2. Retensio placentae atau sisa plasenta (tissue/Jaringan)

Yakni adanya gangguan pelepasan plasenta (terlepasnya sebaguan plasenta dari rahim) atau plasenta tidak lahir lengkap

3. Robekan jalan lahir (tear)

yakni upaya yang dilakukan untuk melebarkan jalan lahir untuk memudahkan bayi keluar. Biasanya dengan menggunting sisi-sisi tertentu pada vagina pada saat sedang kontraksi kuat.

4. Gangguan pada faktor pembekuan darah (trombosit)

Pendarahan yang terjadi karena adanya kelainan pada proses pembekuan darah sang ibu, sehingga darah tetap mengalir

Tips Menghadapinya

Hal-hal yang telah disebutkan di atas tidaklah perlu dikhawatirkan secara berlebih, karena yang terpenting dalam menjalani kehamilan dan menghadapi persalinan adalah pemantauan yang ketat dan pencegahan dini jika hal tersebut menjadi kemungkinan saat persalinan nanti.

Dibawah ini ada beberapa tips yang dapat dipertimbangkan jika pada suatu kehamilan memungkinkan terjadinya pendarahan setelah melahirkan :

  1. Mengontrol kehamilan secara rutin, terlebih saat usia kehamilan 24 minggu di anjurkan kontrol tiap 2 minggu sekali, dan saat usia kehamilan 36 minggu dianjurkan kontrol tiap minggu sekali.
  2. Perbanyaklah istirahat dengan posisi baring lebih sering, sehingga aliran darah ke plasenta meningkat dan pertumbuhan janin menjadi lebih pesat.
  3. Setelah usia kehamilan 30 minggu hendaknya dihindari berpergian jauh dan janganlah melakukan hubungan seks.
  4. Perbanyak makanan yang mengandung protein, dan makanlah lebih sering namun dengan porsi yang lebih sedikit.
  5. Periksalah kadar hemoglobin untuk mengetahui jenis golongan darah dan rhesus ibu untuk persiapan tranfusi darah jika nantinya diperlukan, terlebih pada kehamilan kembar. Karena kebutuhan zat besi pada ibu dengan kehamilan kembar harus mencukupi kebutuhan zat besi untuk 2 janin dan juga pengeceran volume darah ibu lebih meningkat.
  6. Minumlah secara teratur suplemen penambah darah yang diberikan oleh dokter untuk mencegah anemia dan nutrisi janin ibu.