Kehamilan & Kelahiran

Komplikasi Pasca Persalinan Operasi Caesar

Share Yuk!
operasi caesarSebelum Anda dioperasi, dokter yang baik akan menerangkan bagaimana jalannya operasi, apa yang dilakukan langkah demi langkah pada anda, dan komplikasi-komplikasi apa saja yang mungkin terjadi. Komplikasi yang bisa terjadi pada operasi Caesar antara lain:

Organ2 sekitar rahim terlukai

Usus besar, kandung kemih dan saluran kencing bisa saja terlukai pisau bedah saat operasi Caesar, karena organ2 ini letaknya berdekatan. Selain itu, syaraf juga bisa terlukai. Namun kejadian ini sangat jarang terjadi.

Bayi terlukai

Saat dinding rahim Anda dibuka, bayi bisa terlukai.

Perdarahan

Saat operasi perdarahan terjadi akibat sayatan atau tertinggalnya sisa plasenta, namun perdarahan dapat terjadi lebih lanjut jika kontraksi rahim tidak baik setelah plasenta dilahirkan. Anda akan mendapatkan transfusi darah, atau jika saat operasi terjadi perdarahan berat, maka pada kasus ekstrim akan dilakukan pengangkatan rahim.

Problem buang air kecil 

Karena saat pembedahan dokter melakukan manipulasi organ dengan alat-alat (misalnya mendorong kandung kencing supaya tidak ikut tersayat saat membuka dinding rahim), hal ini dapat menyebabkan otot2 saluran kencing terganggu, akibatnya kandung kencing tidak sepenuhnya kosong setelah Anda buang air kecil.  Obat anestesi dan penghilang rasa sakit juga bisa menyebabkan problem ini. Gejala yang bisa dirasakan pasien misalnya keluarnya beberapa tetes air seni saat batuk, tertawa atau mengejan (inkontinensia urin). Gejala yang berat bisa terjadi, yaitu pasien tidak dapat BAK (retensi urin). Pada kasus seperti ini, akan dipasang selang kateter untuk membantu mengeluarkan urin. Masalah ini akan berangsur-angsur pulih saat otot2 panggul dan saluran kencing sudah beradaptasi.  Untuk menghindari masalah ini, biasakan melakukan latihan otot dasar panggul.

Infeksi

Infeksi dapat terjadi misalnya karena kurangnya sterilitas alat-alat operasi, adanya retensi urin, luka operasi yang terkontaminasi atau melalui transfusi darah. Infeksi bakteri pada umumnya dapat ditangani baik dengan antibiotik.

Perlengketan

Resiko perlengketan plasenta pada rahim (plasenta akreta) meningkat pada ibu yang menjalani operasi Caesar. Perlengketan juga bisa terjadi jika darah, jaringan plasenta atau jaringan rahim (endometrium) tertinggal dan menempel pada usus atau organ dalam lainnya.

Trombus dan emboli 

Obat bius membuat otot-otot berelaksasi selama operasi, dimikian pula dengan otot-otot pembuluh darah. Hal ini membuat aliran darah melambat, konsekuensinya adalah resiko pembentukan trombus dan emboli meningkat. Trombus adalah bekuan darah yang dapat menyumbat aliran darah. Bekuan darah ini dapat terbawa aliran darah sehingga menyumbat pembuluh darah di kaki, paru-paru, otak atau jantung. Hal ini bisa berakibat fatal, misalnya jika penyumbatan di otak dan jantung, maka dapat menimbulkan kematian. Kejadian ini amat sangat jarang terjadi. Di jerman, sebelum pasien dioperasi Caesar, pasien dipakaikan kaus kaki khusus anti-trombus, setelah operasi diberikan suntikan pencegah thrombus dan pasien segera dimobilisasi, hari ke-5 pasca operasi pasien boleh pulang.

Emboli air ketuban

Ini terjadi apabila cairan ketuban beserta komponennya masuk ke dalam aliran darah ibu dan menyumbat pembuluh darah. Emboli air ketuban dapat terjadi pada persalinan normal ataupun operasi Caesar, karena pada saat persalinan terdapat banyak pembuluh darah yang terbuka. Kejadian ini amat sangat jarang terjadi.
Dengan adanya artikel ini, bukan untuk menakut-nakuti ibu yang akan menjalani operasi Caesar, namun untuk menginformasikan bahwa tindakan operasi Caesar bukannya tanpa resiko dan komplikasi. Adanya penjelasan oleh dokter akan menepis tuduhan malapraktik bila terjadi komplikasi seperti di atas.
Sumber Gambar : http://panduancaracepathamil.files.wordpress.com/2012/08/beberapa2bfakta2bseputar2boperasi2bcaesar.jpg
Share Yuk!
BACA JUGA:  Apa Gejala Baby Blues Syndrome? Bagaimana Solusinya?