Bagaimana Cara Menahan Diri Agar Tidak Memukul Anak?

Terbit 01 February 2009 Komentar 9 Komentar Kategori: Pendidikan & Psikologi

Betapa seringnya kita sebagai orang tua merasakan begitu susahnya untuk menahan diri untuk tidak memukul anak ketika dia melakukan suatu yang menyusahkan kita. Padahal jika kita berpikir ulang kita akan dapati bahwa pukulan itu tidaklah akan memberikan suatu manfaat yang besar dibandingkan dengan penyesalan yang akan kita tunai setelah itu. Maka sebagai orang tua kita harus mengerti bagaimana cara agar kita bisa mengendalikan diri kita untuk tidak memukul mereka ketika berbuat kesalahan.

Berikut ini beberapa tips agar kita bisa menahan diri untuk tidak memukul anak.

1. Berusahalah untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan.

2. Posisikan dirimu seperti anakmu ketika anda masih anak-anak dan ibumu yang dengan sabar dan lembut menanggapi kesalahan-kesalahan dan kenakalanmu

3. Berbicaralah dengan dirimu sendiri :”Apakah engkau dengan pukulan ini ingin membalas dendam atau engkau ingin mengajari anakmu dengan pukulan ini? Jika yang engkau kehendaki adalah pelampiasan kemarahan maka engkau tidak berhak memukulnya, akan tetapi jika engkau bermaksud mengajarinya adab dan sopan santun, maka bukankah masih ada cara lain selain pukulan?”

4. Renungkanlah lagi ketika anda memukulnya pada kesempatan sebelumnya dan bagaimana anda merasa menyesal setelah itu seandainya hal itu tidak terjadi

5. Buatlah kesepakatan dengan suamimu untuk mencegahmu dari memukul anakmu

6.Ingatlah pula bahwa anakmu lemah dan tidak bisa membela diri.

Be Sociable, Share!
9 Komentar
anikal-fatah
2013-04-28 17:20:26

Bagaimana caranya agar anak nurut kepada orang tua, karena kebanyakan anak bila diajak berbicara selalu ikut berbicara juga
bagaimana caranya agar anak nurut,

admin
2013-05-12 19:46:30

agar anak nurut pada orangtua adalah sikap konsisten orangtua dalam menerapkan aturan ddi rumah. mendengarkan dengan baik. orangtua perlu belajar untuk berkomunikasi dengan anak. berkomunikasi yang menunjukkan empati terhadap kebutuhan anak.

novi
2010-12-20 22:33:58

Saya punya tabiat aneh. Sering muncul emosi yang tidak juntrungan pemicunya. Misalnya, berhari-hari anak-anak berulah saya tidak kepancing. Tetapi, hari keempat, tiba-tiba si sulung merengek-rengek sambil menendang-nendang adik yang duduk di depannya. Melihat kaki yang menendang, atau rengekan, tiba-tiba saja saya emosi lalu kaki si sulung saya cengkram. Sambil mencengkram saya teriak-teriak,”kenapa sih kakak suka nendang-nendang. Ibu sudah bilang, jangan nendang-nendang!”

Yang lebih mengerikan, emosi tadi bisa jadi makin mengerikan karena dicampur dengan histeria yang nggak jelas.

Pernah suatu kali, saya menampari muka dan kepala saya. Kala itu saya habis memerahi si sulung (selalu si sulung yang bertingkah dan yang selalu kena marah). Karena takut saya marah berlebihan, sedangkan emosi sedang puncak-puncaknya, saya langsung lampiaskan ke diri sendiri.

Saya merasa, saya ini aneh sekali. Setiap kali melakukan kekerasan (mencubit kaki, memukul kepala, mencubit lengan, mengguncang-guncang tubuh si sulung, pernah juga menggigit pipi si sulung), saya benar-benar lepas kontrol. Saya seperti tidak tahu apa yang saya hadapi. Setelahnya pasti saya menjadi stres berat, langsung melapor pada suami, tetapi langsung juga merangkul si sulung yang habis kena. Saya biasanya langsung minta maaf kepada Allah, kepada suami, kepada si sulung, dan meminta pengertian si sulung untuk tidak mengulanginya lagi.

Tapi, saya merasa apa pun usaha yang saya lakukan untuk mengekang emosi marah tadi sudah tidak bisa ditolerir lagi. Rencananya dalam beberapa hari ini saya akan ke psikolog. Saya sayang sama si sulung, tapi saya juga ingin menolong diri saya sendiri.

Tabiat marah saya ini ternyata tidak hanya kepada si sulung. Kadang juga kepada orang lain, termasuk orang tua atau adik-kakak sendiri.

Suami saya sangat sabar dan selalu berusaha ‘menyembuhkan’ tabiat saya ini. Tetapi saya benar-benar ‘sudah rusak’. Saya harus memperbaiki diri dengan cara berkonsultasi kepada ahlinya.

Anehnya, dari tiga anak, hanya si sulung yang sering kena ‘tangan’ saya. Padahal si tengah dan si bungsu dengan perangai yang mirip-mirip tidak pernah kena ‘tangan’ saya.

Naudzubillah mindzalik, semoga Allah mau membantu saya.

Rumah Islami
2009-08-25 22:16:34

sekedar berbagi, saat saya sedang sangat marah dengan anak tersayang, selalu saya bayangkan seandainya ia tidak lagi berada di sisi saya…timbul rasa sedih yang mendalam dan amarah pun mereda.

memukul anak tidak akan membuat ia mengerti namun justru menimbulkan bekas di hatinya. bagaikan kaca yang tergores, tak akan pernah kembali seperti semula.

betapa tidak mudah ya menjadi orang tua yang baik. menyesal sekali karena tidak menjadi anak yang baik sewaktu masih kecil…

admin 2
2009-08-26 08:05:33

hmm…ya,betul sekali. itu dapat menjadi salah satu cara kita untuk meredam keinginan berlaku kasar pada anak. semoga kita semua bisa menjadi orangtua yg baik…aamiiin

fias Jr
2009-08-24 16:55:51

dari kecil saya selalu dipukul sama speerti mukulin maling…

makanya besar dengan perasaan minder

admin 2
2009-08-25 08:24:18

kami turut sedih mendengar cerita Anda, Pak. namun, kita harus belajar untuk bijaksana dalam menyikapi kehidupan kita di masa depan. apa yg Anda alami, tidak boleh dialami oleh anak2 Anda. putuskan tali kekerasan itu dari diri Anda mulai sekarang. carilah seseorang yg dapat membuat Anda merasa lebih berarti dan berharga, serta mencintai Anda dengan tulus, memperlakukan Anda dengan lemah lembut dan penuh dengan cinta. hadapi hidup dengan berani. Anda pasti bisa. jadilah seorang juara!!

eko
2009-08-02 14:16:28

alhamdulillah..
terimakasih informasinya

parenting tips

mencoba mengasuh anak tanpa kekerasan:

http://ekojuli.wordpress.com/2009/07/30/bintang-untuk-rifqi/

uchiee
2009-02-12 22:00:07

Beruntung sekali saya bertemu dengan pondokibu.com ini bisa membantu saya menghadapi kemarahan saya thd anak saya,Semoga dengan ini saya bisa lebih lembut dan memahami anak2 saya dan bagi saya tidak ada kata terlambat untuk berubah,timakasih

Leave a Reply

Komentar hanya untuk artikel terkait.
Dilarang melakukan segala bentuk promosi!

© 2007-2012 pondokIBU.com "Inspirasi Ibu Membentuk Keluarga Bahagia dan Berkarakter!"
POWERED BY LantaburaMedia & WordPress