Pendidikan & Psikologi

Anak Tunggal Tak Selalu Egois

images_019Selama ini orang sering memberikan label negatif pada anak tunggal. Padahal bila pola pengasuhan dilakukan dengan benar, anak tunggal pun bisa mandiri dan menaruh perhatian pada orang lain. Komentar-komentar akibat suatu kenakalan si anak tunggal sering terlontar sebagai akibat karena mereka dilahirkkan sebagai anak tunggal. Padahal hal yang sama tersebut juga kerap dilakukan oleh mereka yang masing-masing bukan anak tunggal.
Memang perilaku (sebutlah, kenakalan) yang menghinggapi anak tunggal tidak muncul begitu saja. Anak adalah suatu anugerah yang paling besar buat setiap insan, sehingga banyak orang tua memberikan segalanya terhadap anak mereka. Apalagi bila kebetulan si anak adalah buah hati satu-satunya. Kondisi seperti inilah yang berpengaruh besar terhadap kemungkinan perkembangan seorang anak tunggal menjadi anak yang egois.

Berkembangnya anak tunggal menjadi anak yang egois sebetulnya diakibatkan oleh pola asuh yang salah dari orang tuanya. Misalnya bila orang tua mengabulkan semua permintaan anak, sehingga anak tidak pernah tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu seharusnya ia melakukan sesuatu dulu sebelum memmperolehnya.

Sifat egois juga didukung oleh kondisi anak yang merupakan semata wayang. Dalam keadaan dimana segala sesuatu dirumah diadakan untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangannya, anak tunggal cenderung tidak mau berbagi. Berbeda dengan anak yang mimiliki saudara kandung, sejak kecil ia terbiasa melihat bahwa ada anak lain yang diperhatikan oleh orang tuanya.

Keegoisan dan kemanjaan itu dapat diimplementasikan dalam bentuk lain. Misalnya, ketika meminta sesuatu dan tidak langsung dikabulkan, si anak merengek-rengek atau menjerit-jerit. Ia baru mau berhenti bila keingainannya dikabulkan..

Lebih gawat lagi bila kondisi itu membuat anak terpicu untuk berperilaku agresif ketika bergaul dengan teman-temannya. Masalahnya bila berada dirumah ia tidak punya pesaing, namun diluar rumah belum tentu keadaan itu berlaku. Boleh saja ia menempati urutan pertama di rumah, dimana keinginan dan kesukaannya selalu diperhatikan anggota keluarga yang lain. Namun dalam pergaulan tentu saja ia juga harus ikut kesepakatan bersama. Bila ia tidak bisa menerima, kemungkinan yang keluar adalah perilaku yang agresif seperti merebut mainan atau buku teman, mencubit dan memukul.

Semua hal ini hanya dikarenakan kesalahan orang tua yang tak lain adalah memanjakan anak sehingga tidak mandiri. Mulailah mengubah pola asuh. Yang perlu disadari para orang tua beranak tunggal, setiap kelebihan dan kekurangan anak dapat dihubungkan dengan pola asuh. Seperti kata para ahli anak seperti kertas putih. Tinggal orang tua yang memilih akan seperti apa ia menorehkan sesuatu di kertas itu. Posisi anak yang manapun entah sulung, bungsu, ataupun tengah sebenarnya memang memiliki karakter yang khusus. Jadi bukanlah suatu kesalahan jika anak tunggal juga memilki karakter yang khusus juga.

Walaupun dilihat dari keadaan, seorang anak  yang memiliki kakak atau adik akan lebih mudah berbagi karena sudah terbiasa. Seorang kakak sulung lebih mudah menerima tanggung jawab karena dapat melihat dan memahami bahwa adiknya lebih kecil sehingga pada pundaknyalah tanggung jawab itu dibebankannya. Tapi, anak manapun bila dimanjakan terlalu berlebihan tentu saja akan berakibat tidak baik.

Pengasuhan dan pendidikan yang baik terhadap seorang anak tunggal akan menjadikannya sebagai seseorang yang dapat diandalkan. Hal ini karena anak tunggal cenderung tampil lebih baik di depan umum dalam rangka menjaga agar perhatian orang lain tetap tertuju padanya. Memang inilah salah satu ciri yang menonjol pada anak tunggal yaitu penampilan yang selalu dijaga supaya tetap terlihat berkesan, berperilaku santun dan kontrol diri secara ketat.

Agar hal ini tercapai perlu suatu dukungan penuh dari orang tua. Ajarilah anak untuk bisa bertoleransi, misalnya dengan sering mengajak keponakan ataupun anak-anak tetangga untuk bermain bersama di rumah. Disini ia akan belajar menikmati sesuatau bersama-sama dan belajar bermain secara sportif. Anak perlu disadarkan bahwa orang lain juga punya kebutuhan dan keinginan sendiri yang patut dihargai.

Orang tua juga perlu bertindak tegas dan memberlakukan hukuman yang mendidik. Jika memang anak salah boleh saja menghukumnya misal dengan tidak boleh nonton televisi namun selain itu ajaklah mereka bicara, buatlah perjanjian dengan anak agar ia mengubah perilaku yang jelek dengan yang bagus. Setelah itu berilah mereka suatu penghargaan, misal dengan memberikan barang yang memang diinginkan atau yang sedang dibutuhkannya.

Namun yang harus diperhatikan setiap orang tua adalah menjalankan pola asuh ini secara konsisten. Setiap peraturan harus dijalankan dengan konsekuen, kecuali yang bersifat darurat atau perkecualian. Jangan sampai orang tua melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri. Dengan demikian memiliki anak tunggal yang tidak egois dan mandiri bukanlah sesuatu hal yang mustahil.