Keluarga, Tumbuh Kembang Anak

Bila Anak Terlalu Bergantung

Share Yuk!

Bila Anak Terlalu Bergantung“Pokoknya, maunya sama mama…!!”

Mama Febi tampak frustrasi melihat bungsunya, Febi, yang masuk TK tahun ini menangis dan berteriak-teriak. Tampak guru kelasnya tengah membujuk dan memeluknya agar menghentikan tangisnya. Ini sudah sebulan sejak masuk sekolah, dan Febi belum juga mau ditinggal.

Saat ditanya mengapa selalu menangis di sekolah, Febi selalu menjawab, “Nggak kenapa-kenapa,”. Tentu saja itu membuat mama Febi dan gurunya menjadi bingung menanganinya. Sebab, tidak ada apa-apa pun, Febi selalu enggan masuk kelas dan langsung menangis serta mengamuk jika tak menemukan mamanya di depan kelas.

Anda tentu sebal dan frustrasi jika si kecil kesayangan Anda tidak juga mandiri dan terlalu bergantung pada Anda. Tapi, tahukah Anda, bahwa sikap terlalu bergantung ini bisa jadi karena Anda juga?

Tidak matang. Anak-anak yang over dependent atau terlalu bergantung menunjukkan tanda-tanda ketidakmatangan. Anak tipe ini biasanya selalu menangis, merengek, bahkan mengamuk sebagai usahanya mencari bantuan, perhatian, dan kasih sayang secara berlebihan. Ini sering terjadi di awal-awal anak masuk sekolah. Mereka juga membutuhkan kedekatan fisik dengan orang dewasa (dalam hal ini ibunya).

Sebagian besar orang tua merasa gelisah dan khawatir dengan ketergantungan anak yang demikian. Namun, tak sedikit pula yang bersikap santai-santai saja dan percaya bahwa ini adalah perilaku yang wajar dan anak akan mengatasinya sendiri kelak.

Mengapa bergantung?

Sikap orang tua yang terlalu permissif bisa menjadi penyebab anak-anak menjadi bergantung. Misalnya, orang tua susah memberikan batas-batas karena takut anaknya menganggapnya terlalu keras dan galak. Sehingga, dengan mudah mereka mengabulkan semua tuntutan anak. Akibatnya, anak pun memanipulasinya dengan menjadikan rengekan dan tangisan untuk memenuhi tuntutannya.

BACA JUGA:  Pentingnya Mengendalikan Emosi dalam Mendidik Anak

Merasa diabaikan. Anak-anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian akan menggunakan senjata menangis dan merengek untuk mendapatkan perhatian orang-orang sekitarnya. Anak seperti ini sebaiknya mendapatkan waktu dan perhatian khusus.

Orang tua terkadang juga merasa bersalah terhadap anak-anaknya, lantaran terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehingga, setiap rengekan kecil sang anak selalu saja dituruti. Orang tua tipe ini biasanya selalu berdalih “kasihan” dan “tidak mau repot” dengan tangisan anak.

Sehingga, rasa bersalah karena jarang ada bersama anak-anaknya membuatnya tidak sadar telah bersikap terlalu memanjakan.

Terlalu takut. Beberapa orang tua bersikap terlalu melindungi anak-anaknya. Ada bahkan yang sampai tak ingin anak-anak keluar halaman rumah tanpa pengawasannya karena menilai lingkungan di luar rumah terlalu kasar dan keras bagi anak-anak. Secara tidak langsung, mereka pun juga mendorong anak berperilaku kekanakan dan akhirnya terlalu bergantung pada mereka.

Bagaimana mengatasinya?

Dukung si kecil untuk bersikap mandiri. Anda bisa melatihnya sejak dini untuk belajar mengurus dirinya sendiri dalam hal-hal kecil. Makan dan minum, misalnya. Dorong anak untuk belajar menentukan pilihannya, seperti makanan yang ingin dimakan hari ini, atau pakaian mana yang ingin dipakainya. Jangan terlalu memainkan peran dan menguasai anak secara berlebihan.

Jangan memanjakan. Berikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Jangan asal menuruti semua yang ia minta. Jika perlu, ajari mereka sejak dini untuk menabung, sehingga mereka dapat belajar memenuhi keinginan mereka sendiri dengan usaha. Meraka akan lebih mudah menghargai sesuatu jika sedari kecil mereka terbiasa berusaha sendiri.

Berikan perhatian yang cukup. Jangan menunda-nunda atau bersikap cuek terhadap anak Anda. Jadilah pendengar dan pemerhati yang baik bagi mereka. Jika pun kita harus menjawab “tidak” pada mereka, maka berikan alasan yang jelas dan tegas mengapa Anda bersikap demikian.

BACA JUGA:  Dilemma Adik Baru

Selalu ingatkan anak setiap kali mereka tidak mandiri. Berikan peringatan atau teguran dengan cara yang baik. Dorong ia untuk merasa bahwa ia dapat bersikap “lebih dewasa” dan ingatkan betapa senangnya bisa melakukan banyak hal seperti anak yang sudah besar.

Berlakukan sistem imbalan. Buatlah kesepakatan dengan anak Anda tentang hukuman dan hadiah tentang perilakunya. Misalnya, Anda akan memberinya kesempatan bermain komputer selama 1 jam jika ia bersikap baik dan mandiri. Tapi, jika ia bersikap sebaliknya, Anda tidak akan memberinya jatah bermain komputer hari itu.

Segera berikan penanganan jika anak Anda telah terlanjur bergantung pada Anda. Jangan bersikap cuek dan bersantai-santai. Mengapa? Karena hal ini akan semakin menyulitkan Anda kelak. Mari kita belajar menjadi orangtua yang bijak!

Sumber Gambar : http://1.bp.blogspot.com/-1OZmKvs1O_8/VCqeJtBuTgI/AAAAAAAAGnw/s5ZR1NuhAEA/s1600/gembok_china.jpg

Share Yuk!