26
December
Dari kesimpulan contoh-contoh dan keluh kesah orangtua mengenai anak-anaknya kenakalan anak diartikan sebagai salah satu tingkah laku anak yang menimbulkan persoalan bagi orang lain. Perumusan ini dapat dipersempit menjadi 2 macam sifat kenakalan berdasarkan ringan atau beratnya akibat yang ditimbulkan, yaitu:
Kenakalan semu merupakan kenakalan anak yang tidak dianggap kenakalan bagi pihak ketiga selain orangtua mereka. Berdasarkan pandangan orang ketiga yang tidak berhubungan langsung dengan si anak Tingkah laku anak walaupun agak berlebihan tetapi masih dalam batas kewajaran dan nilai-nilai moral. Selengkapnya »
29
May
Banyak orang tua selalu merasa bahwa pendidikan yang didapat anak- anaknya sudah cukup saat anak memasuki usia sekolah. Padahal sekolah bukan satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Orang tua juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Sering terjadi orang tua lepas tangan terhadap pendidikan anak-anaknya selepas pulang sekolah. Orang tua tidak peduli dengan apa yang dilakukan anak-anaknya setelah pulang sekolah. Selengkapnya »
2
February
Betapa sulitnya untuk tidak mengatakan “jangan” kepada anak-anak.
Ada-ada saja tingkah anak bikin kepala cekot-cekot, dan hampir selalu kita katakan “jangan” apslsgi kalau emosi lagi ga stabil atau ga jernih kata “jangan” hampir selalu dibarengi dengan belalakan mata atau omelan, bahkan tak segan tanganpun bereaksi.
Berikut ini ada tulisan M. Fauzil Adhim, mungkin bisa menjadi pengngat buat kita semua. Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan orangtua pada anak melebihi kata” jangan ”. Selengkapnya »
13
September
KOMPAS.com — Usia 0-3 tahun adalah periode emas perkembangan otak bayi. Karena itu, orangtua perlu melakukan berbagai stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan otaknya, entah itu dari segi nutrisi ataupun rangsangan berupa komunikasi, usapan, pandangan, atau pelukan untuk anak. Selain itu, ada pula stimulasi yang didapatkan dari musik, bacaan, atau mainan. Benarkah demikian? Apakah stimulasi jenis terakhir ini hanya merupakan mitos?
Dr John Medina, ahli biologi molekuler dari University of Washington School of Medicine dan penulis buku Brain Rules: 12 Principles for Surviving and Thriving at Work, Home and School, membeberkan sejumlah stimulasi otak yang tak sepenuhnya benar.
Beberapa mitos yang biasa beredar di masyarakat:
1. Memperdengarkan Mozart untuk bayi di dalam kandungan dapat meningkatkan kemampuan Matematika-nya kelak.
Fakta: Bayi hanya akan mengingat sesuatu setelah mereka lahir. Demikian juga dengan musik Mozart. Bayi Anda akan mengingatnya setelah mereka lahir, begitu pula dengan apa pun yang ia dengarkan, cium, atau rasakan di dalam rahim. Jika Anda ingin anak Anda memiliki nilai Matematika yang cukup baik, Anda dapat mengajarkan penguasaannya pada tahun-tahun awal.
2. Memberikan DVD pelajaran bahasa untuk bayi dan anak dapat meningkatkan kemampuan berbahasa mereka.
Fakta: Beberapa DVD bahasa justru sebenarnya dapat mengurangi kosakata anak batita. Memang benar bahwa berbagai kata yang Anda gunakan ketika berbicara dengan bayi dapat meningkatkan kosakata dan IQ-nya. Tetapi, kata-kata itu harus datang dari Anda, ibunya, yang mengajaknya berbicara dari waktu ke waktu.
3. Untuk meningkatkan kekuatan otak, anak-anak bisa diajarkan bahasa Perancis mulai usia 3 tahun, bermain dengan mainan-mainan yang merangsang otak, dan berbagai DVD pendidikan.
Fakta: Teknologi terbesar dalam meningkatkan otak anak adalah dengan kotak kardus polos, sekotak pensil warna, dan dua jam waktu yang digunakan. Sedangkan televisi merupakan cara terburuk untuk menstimulasi otak.
4. Mengatakan kepada anak bahwa mereka pintar dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
Fakta: Ternyata, bila selalu dipuji bahwa mereka pintar, anak akan menjadi enggan melakukan sesuatu hal yang menantang. Untuk mendorong agar anak kelak bisa menjadi pelajar atau mahasiswa yang cerdas, pujilah usahanya dalam mencapai prestasi tersebut.
5. Anak-anak dapat menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Fakta: Kriteria terbesar dari kebahagiaan adalah memiliki teman. Bagaimana cara Anda mengajarkan kepada anak untuk mendapatkan dan menjaga hubungan pertemanan? Hal ini akan menunjukkan bahwa anak juga memiliki kemampuan menguraikan komunikasi nonverbal. Sedangkan cara yang bisa merusak kemampuan tersebut adalah mengirim SMS.