<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok IBU &#187; emosi</title>
	<atom:link href="http://pondokibu.com/tag/emosi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pondokibu.com</link>
	<description>Informasi Seputar Dunia Ibu &#38; Anak</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Jul 2010 15:09:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>TEMPER TANTRUM: ANAKKU SUKA MENGAMUK?</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/temper-tantrum-anakku-suka-mengamuk/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/temper-tantrum-anakku-suka-mengamuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 00:07:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan emosional]]></category>
		<category><![CDATA[temper tantrum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2355</guid>
		<description><![CDATA[Penguasaan emosi masing-masing anak tentu berbeda. Ada anak yang sejak kecil sangat santai, tidak mudah terpengaruh keadaan emosinya, dan kalem-kalem saja. Tapi, ada type anak yang begitu mudah marah, mengamuk, bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri. Letupan kemarahan inilah yang sering kita sebuat sebagai temper tantrum.
Temper tantrum, biasanya terjadi pada 4 tahun pertama usia anak. Ekspresinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2354" title="temper tantrum" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/12/temper-tantrum.jpg" alt="temper tantrum" width="118" height="121" />Penguasaan emosi masing-masing anak tentu berbeda. Ada anak yang sejak kecil sangat santai, tidak mudah terpengaruh keadaan emosinya, dan kalem-kalem saja. Tapi, ada type anak yang begitu mudah marah, mengamuk, bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri. Letupan kemarahan inilah yang sering kita sebuat sebagai <strong><em>temper tantrum</em></strong>.</p>
<p>Temper tantrum, biasanya terjadi pada 4 tahun pertama usia anak. Ekspresinya bisa berupa gabungan tingkah laku menangis, memukul, membuat tubuh kaku, melempar barang, menjerit, berguling-guling, atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu.<span id="more-2355"></span></p>
<p>Parahnya, anak-anak dengan temper tantrum ini biasanya menggunakan “senajata” mengamuk mereka untuk memaksa orangtua mereka agar menuruti semua keinginannya.</p>
<p>Mengapa bisa begitu?</p>
<p>Temper tantrum ini terbentuk secara kondisional. Biasanya terjadi karena anak merasa orangtuanya terlalu memaksanya secara berlebihan (bagi orangtua yang terlalu keras), atau perlakuan tidak konsisten dari orangtua, anak-anak yang sakit, cacat fisik, atau anak yang mengalami keterbelakangan mental.</p>
<p>Orangtua yang terlalu cerewet, senang mengkritik, dan keras terhadap anak-anaknya, dapat memancing kekesalan dan kemarahan anak-anaknya. Mereka mungkin awalnya akan menuruti, namun jika paksaan terus menerus dilakukan, mereka jenuh, dan akhirnya meletuplah kemarahan itu.</p>
<p>Orangtua yang tidak konsisten dalam mendidik anak-anak, terutama dalam masalah kedisiplinan dan prinsip. Misalnya, orangtua menuntut anak untuk shalat tepat waktu dan pergi ke masjid. Tapi, ternyata ayahnya sering terlambat bahkan malas-malasan ke masjid. Anak-anak tentu akan melakukan protes keras, manakala mereka melihat fenomena ini. Mereka dipaksa, namun orangtua tidak memperlihatkan keteladanannya.</p>
<p>Anak-anak yang sakit, biasanya lebih cenderung manja. Dan orangtua berusaha memenuhi keinginannya, jika memang itu dapat membuatnya segera sembuh. Sayangnya, ada beberapa type anak yang menggunakan alasan sakit ini untuk memperturutkan keinginannya.</p>
<p>Anak-anak dengan keterbelakangan mental atau cacat fisik, mereka pasti akan merasakan frustrasi yang lebih manakala mereka tidak mampu melakukan segalanya sendiri, atau mengungkapkan keinginannya agar mudah dimengerti orang lain.</p>
<p>Bagaimana menanganinya?</p>
<p>Hindari pembatasan yang berlebih. Jadilah orangtua yang bijak dan tidak bersikap otoriter. Bersikaplah yang fleksibel dengan melihat kondisi anak.</p>
<p>Bersikap konsisten, dengan tetap mencintai anak dengan sepenuh hati tanpa kekakuan dan sikap sewenang-wenang.</p>
<p>Bersikap tenang. Jika anak mulai mengamuk untuk mendapatkan keinginannya, maka Anda harus bersikap cool, tenang, dan tidak terpancing untuk marah. Jika  Anda merasa terpancing untuk marah, segera menghindar, masuklah kamar. Tenangkan diri Anda dengan berdzikir, membaca buku, atau tidur sejenak. Jika sudah reda kemarahan Anda, peluklah si kecil.</p>
<p>Jangan berargumentasi saat anak mengamuk. Itu justru akan menambah amukannya. Anda bisa masuk kamar, dan mengatakan padanya untuk bicara baik-baik jika ia sudah tidak mengamuk lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/temper-tantrum-anakku-suka-mengamuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA ASI DAN EMOSI</title>
		<link>http://pondokibu.com/kehamilankelahiran/antara-asi-dan-emosi/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/kehamilankelahiran/antara-asi-dan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 03:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEHAMILAN & KELAHIRAN]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[Wanita pekerja, sebuah dilemma yang tak kunjung habisnya. Pemberian ASI salah satunya. Banyak ibu yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Padahal, sesungguhnya ASI adalah salah satu hak mendasar bayi agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya (baca: bukan karena suatu penyakit) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1582" title="dot" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/09/dot.jpg" alt="dot" width="128" height="109" />Wanita pekerja, sebuah dilemma yang tak kunjung habisnya. Pemberian ASI salah satunya. Banyak ibu yang bekerja di luar rumah tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Padahal, sesungguhnya ASI adalah salah satu hak mendasar bayi agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya (baca: bukan karena suatu penyakit) berarti tidak memenuhi hak bayi. Padahal, pengaruh pemberian ASI ini sangat besar bagi proses tumbuh kembang anak.<span id="more-1581"></span></p>
<p>Pemberian ASI eksklusif akan dapat mempererat jalinan cinta dan kasih antara ibu dan anak. Anda tahu mengapa? Karena dalam dekapan sang ibu, anak merasakan kehangatan dan cinta yang ibu berikan. Adanya sentuhan kulit antara bayi dan ibu pun akan meningkatkan kemesraan di antara keduanya. Apa dampaknya? Kebutuhan yang terpenuhi itu mendorong mereka untuk bisa lebih berani untuk menyentuh dan bersama orang lain, kepuasan dan rasa aman sehingga ia tidak memiliki kecenderungan untuk menciptakan keributan-keributan.</p>
<p>Tapi coba saja, jika anak tidak mendapatkan ASI, kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi : rasa aman, kehangatan dekapan ibu, sentuhan lembut dengan fisik ibu, mereka akan cenderung mencari pelampiasan pada hal-hal yang lain.</p>
<p>Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh para psikolog di rumah sakit di Amerika, dan mereka menemukan banyak fakta tentang pengaruh pemberian ASI terhadap emosi dan perkembangan mental anak. Mereka menyebutkan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI penuh selama masa penyusuannya cenderung tidak memiliki permasalahan secara mental pada 5 tahun fase perkembangannya. Sedangkan anak yang tidak mendapatkan ASI penuh cenderung memiliki perilaku buruk pada fase perkembangannya.</p>
<p>Dan patut diingat juga bagi para suami, yakni senantiasa memberikan support bagi istrinya untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Misalnya, membantunya mengasuh anak yang lain saat istri menyusui, memberikan tambahan uang belanja agar istri dapat menambah asupan makanan bergizi, juga pengertian akan lelahnya seorang ibu dalam mengurus bayi sehingga tidak terlalu banyak menuntut dan memperturutkan egonya.</p>
<p>Di beberapa Negara di Eropa yang mendukung proses pemberian ASI, mereka bahkan memberikan cuti bekerja selama 1 tahun bagi suami istri agar mereka dapat fokus mengurus bayinya. Dan bagusnya, gaji mereka tetap diberikan 100 persen.</p>
<p>Namun, bagi orangtua baru, memang ada tantangannya tersendiri. Kurangnya pengalaman, juga adanya proses adaptasi antara suami-istri pun berpengaruh bagi proses pemberian ASI ini. Yah, pada intinya, kita semua adalah pembelajar yang harus bisa belajar dari banyak hal.</p>
<p><em>dari berbagai sumber.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/kehamilankelahiran/antara-asi-dan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DILEMMA ADIK BARU</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dilemma-adik-baru/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dilemma-adik-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 02:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[adik baru]]></category>
		<category><![CDATA[dilemma]]></category>
		<category><![CDATA[dilemma adik baru]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1482</guid>
		<description><![CDATA[“Pokoknya kakak mau mama ambilin susu buat kakak, cekalang!!!” 
Rozan, bocah yang belum genap tiga tahun itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan marah. Ia siap melempar krayonnya ke arah sang ibu yang sedang menyusui adiknya yang baru berusia tiga minggu. Mama Rozan hanya bisa mengelus dada.
Sejak kelahiran adik baru, tingkah Rozan berubah 180 derajat. Anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="size-full wp-image-1483 alignleft" title="new baby" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/09/new-baby1.jpg" alt="new baby" width="120" height="123" />“Pokoknya kakak mau mama ambilin susu buat kakak, cekalang!!!” </em></p>
<p>Rozan, bocah yang belum genap tiga tahun itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan marah. Ia siap melempar krayonnya ke arah sang ibu yang sedang menyusui adiknya yang baru berusia tiga minggu. Mama Rozan hanya bisa mengelus dada.<span id="more-1482"></span></p>
<p>Sejak kelahiran adik baru, tingkah Rozan berubah 180 derajat. Anak yang tadinya sangat penurut itu tiba-tiba menjadi sangat bandel, suka berteriak-teriak, suka marah-marah, dan bertambah cengeng. Sedikit saja kemauannya tidak dituruti, ia akan mengamuk. Yang jadi sasaran utama biasanya mama atau adik barunya. Entah menggigit, melempar barang, atau memukul.</p>
<p>Sebagaimana anak-anak pada umumnya, apa yang terjadi pada Rozan kecil itu bisa diwajari. Begitulah anak-anak. Mereka membutuhkan proses untuk mengerti dan menerima kehadiran adik baru. Ya, Anda bisa membayangkan, selama ini perhatian Anda sebagai orangtua berpusat pada kakak. Namun, setelah adanya adik baru, perhatian Anda “teralihkan”. Kakak, yang tidak lain adalah anak-anak yang juga belum mengerti pastilah berpikir, <em>kenapa anak yang tahunya hanya ngompol dan menangis itu bisa jadi pusat perhatian?</em></p>
<p>Reaksi ketidakterimaan itu biasanya berbeda-beda pada tiap anak. Ada yang bereaksi dengan mengamuk seperti Rozan, ada juga yang bahkan menjadi sangat pendiam dan tidak pernah berulah. Namun, pada dasarnya ia menyimpan sebuah tekanan yang sangat besar dan berat. Jika dibiarkan seperti ini, maka anak dengan tipe kedua ini akan tumbuh menjadi anak yang pasif dan rendah diri.</p>
<p>Lalu, bagaimana solusinya?</p>
<p><strong>Persiapkan sejak sebelum lahir</strong>. Ketika hamil, ceritakan pada anak Anda bahwa dulu ia pun berasal dari perut ibu, seperti calon adiknya. Dulu ia juga merasakan belaian Anda, bagaimana Anda menyayanginya dengan sepenuh hati Anda. Anak-anak akan merasa senang ketika ia membayangkan Anda mengelus perut Anda sementara ia ada di dalamnya.</p>
<p>Agar ia tak terkejut, Anda b isa menceritakan sejak awal, bahwa yang namanya bayi itu memang sering menangis karena belum bisa bicara, akan sering menyusu dan minta digendong. Berikan anak Anda pengertian, bahwa ketika adik lahir, Anda akan sangat repot mengurus adik bayi. Jadi tidak bisa menemaninya sesering dulu. Jadi, Anda meminta “bantuannya” untuk mau main sendiri, bahkan membantu Anda sesuai kemampuannya.</p>
<p>Anak-anak yang diberi pengertian sejak awal, juga diajak “menyambut” adik baru, akan lebih mudah diarahkan, insya Allah.</p>
<p><strong>Mintalah bantuan orang ketiga</strong>, jika memang anak Anda berulah sangat nakal. Anda bisa saja menyewa baby sitter untuk menjaga bayi Anda pada saat-saat tertentu, agar Anda tetap bisa memperhatikan si kakak. Anda juga harus memiliki komitmen dengan suami Anda untuk saling bekerjasama dalam menggurus dan merawat anak. Misalnya, saat bayi Anda menangis, suami Anda harus segera tanggap untuk mengalihkan perhatian si kakak.</p>
<p><strong>Jangan turuti maunya ketika ia berulah</strong>. Sering kali kita bereaksi dengan marah dan emosi ketika anak-anak berulah. Hal ini tidak akan mempan. Karena anak dengan tipe ini akan semakin senang membuat Anda marah. Hal terbaik adalah memberinya pengertian tanpa emosi dan marah, setelah itu Anda diam dan jangan perhatikan tingkahnya. Awalnya memang agak berat. Tapi, anak perlu tahu bahwa sikap buruknya tidak akan membuat Anda memperhatikannya. Jauhkan saja bayi Anda dari jangkauannya, juga barang-barang yang berpotensi untuk dirusak olehnya.</p>
<p><strong>Buktikan bahwa Anda bisa bersikap adil</strong>. Bayi baru memang akan selalu menjadi pusat perhatian. Namun, jangan sampai Anda melalaikan anak-anak yang lain. Mereka pun memiliki hak yang sama atas perhatian Anda.</p>
<p>Akan lebih baik lagi jika Andadapat <strong>memperlihatkan foto atau rekaman masa bayinya</strong>. Dengan foto atau rekaman tersebut, Anda bisa memahamkannya, bahwa ketika bayi pun, ia seperti adiknya; menangis, digendong, dipeluk, disayangi, dan mendapatkan perhatian dari semua orang. Dengan demikian, kakak akan belajar memahami, bahwa memang menangis itu adalah tabiat bayi, dan ia akan mulai mengerti dan menaruh empati pada adik bayinya.</p>
<p><strong>Libatkan</strong>. Anda bisa melibatkan kakak saat Anda mengurus bayi Anda. Misalnya, mengajaknya turut bermain air saat Anda memandikan bayi, mengambilkan popok kering, meletakkan popok basah di ember, atau bahkan membantu Anda mendiamkan ketika adiknya menangis.</p>
<p><strong>Hargai perasaan-perasaan kakak dan pujilah keunggulannya.</strong> Anda bisa memberikan pujian semacam, “Subhanallah ya, kakak pintar sekali, sudah bisa ambil susu sendiri. Kalau adik, masih suka nangis…Mama bangga deh, sama kakak. Makanya, adik diajarin dong sama kakak, gimana sih, biar nggak suka nangis lagi?”</p>
<p>Yuk, kita belajar menjadi orangtua yang baik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dilemma-adik-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAKUT, MA…!!</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/takut-ma%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/takut-ma%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 08:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1479</guid>
		<description><![CDATA[Ketakutan-ketakutan apa yang biasanya dialami oleh anak-anak Anda? Ke kamar mandi sendiri? Kamar gelap? Hantu? Binatang? Dokter? Ketinggian?
Biasanya, anak-anak memang memiliki ketakutan-ketakutannya tersendiri terhadap sesuatu. Penyebab ketakutan ini pun bermacam-macam: ketidaktahuan terhadap hakikat sesuatu, keanehan sebuah bentuk, ada yang menakut-nakuti, peristiwa tragis, atau karena adanya perbedaan perlakuan.
Bagaimana cara mengatasinya?
Cari penyebab ketakutan itu. Jika kita sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1480 alignleft" title="not afraid" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/09/not-afraid.jpg" alt="not afraid" width="103" height="138" />Ketakutan-ketakutan apa yang biasanya dialami oleh anak-anak Anda? Ke kamar mandi sendiri? Kamar gelap? Hantu? Binatang? Dokter? Ketinggian?</p>
<p>Biasanya, anak-anak memang memiliki ketakutan-ketakutannya tersendiri terhadap sesuatu. Penyebab ketakutan ini pun bermacam-macam: ketidaktahuan terhadap hakikat sesuatu, keanehan sebuah bentuk, ada yang menakut-nakuti, peristiwa tragis, atau karena adanya perbedaan perlakuan.<span id="more-1479"></span></p>
<p>Bagaimana cara mengatasinya?</p>
<p><strong>Cari penyebab ketakutan itu</strong>. Jika kita sudah mengetahui apa yang menjadi penyebab ketakutan anak, akan mudah untuk mengatasinya.</p>
<p><strong>Jelaskan apa-apa yang dianggap aneh atau seram oleh anak</strong>. Misalnya, hantu. Jelaskan bahwa hantu pada kenyataannya tidak ada. Hanya buatan-buatan manusia saja. Kalau pun ada orang yang pernah diperlihatkan “hantu”, maka sesungguhnya itu adalah jin, makhluk lain selain manusia. Dan sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh takut. Karena orang-orang beriman hanya takut pada Allah.</p>
<p>Jika anak belum berani ke kamar mandi sendiri, atau belum berani tidur sendiri, atau bisa juga takut dengan gelap, maka <strong>temanilah sedikit demi sedikit</strong> sampai ia benar-benar mengerti bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Jangan terlalu memaksanya jika ia belum mau. Insya Allah, dengan kesabaran Anda dalam memberinya pengertian, ia akan terbiasa dan akhirnya berani.</p>
<p><strong>Jangan pernah menakut-nakuti anak-anak dengan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ia takutkan</strong>. Misalnya, menakut-nakutinya dengan dokter atau polisi. Jika anak Anda bandel, Anda menakut-nakutinya dengan dokter dan jarum suntiknya, atau penjara polisi. Ini sangat tidak mendidik.</p>
<p><strong>Hindarkan anak-anak dari acara-acara TV yang seram dan berbau “kekerasan”</strong>. Biasanya, pengaruh TV itu sangat besar. Anak-anak yang baru saja menonton film berbau horror, biasanya jadi takut ke kamar mandi sendiri, atau takut tidur sendiri.</p>
<p><strong>Ceritakan pada anak-anak kisah-kisah teladan para sahabat Nabi yang pemberani</strong>. Dengan demikian, anak-anak jadi termotivasi untuk menjadi lebih berani.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/takut-ma%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGAPA ANAKKU SUKA MEMBANTAH?</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengapa-anakku-suka-membantah/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengapa-anakku-suka-membantah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 02:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[anak bandel]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[menangani anak]]></category>
		<category><![CDATA[mengendalikan emosi]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku menyimpang]]></category>
		<category><![CDATA[suka membantah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1440</guid>
		<description><![CDATA[Anda pusing menghadapi anak Anda yang sangat suka membantah. Setiap Anda bicara, selalu saja ada bantahan-bantahan darinya yang membuat Anda menjadi semakin marah dan sering kali tak tahan untuk tidak memukul. Anda tentu bertanya-tanya: mengapa anakku suka membantah?
Sebenarnya, tidak selamanya sifat suka membantah ini berasal dari kesalahannya semata, melainkan ada andil orangtua di dalamnya. Anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="size-full wp-image-1441 alignleft" title="anak nakal" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/09/anak-nakal.jpg" alt="anak nakal" width="116" height="88" /></em>Anda pusing menghadapi anak Anda yang sangat suka membantah. Setiap Anda bicara, selalu saja ada bantahan-bantahan darinya yang membuat Anda menjadi semakin marah dan sering kali tak tahan untuk tidak memukul. Anda tentu bertanya-tanya: mengapa anakku suka membantah?<span id="more-1440"></span></p>
<p>Sebenarnya, tidak selamanya sifat suka membantah ini berasal dari kesalahannya semata, melainkan ada andil orangtua di dalamnya. Anak-anak hanya akan membantah orangtua yang terlalu banyak memaksakan kehendaknya sendiri alias otoriter, cerewet, terlalu banyak mengatur tanpa memberi anak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan pikirannya, juga orangtua yang ingin menang sendiri.</p>
<p>Mari kita koreksi diri kita sendiri sebagai orangtua: apakah ketika anak-anak melakukan kesalahan, kita memberikannya nasehat panjang lebar dengan memberikan argument-argumen dan logika-logika orang dewasa? Apakah kita menuntut anak-anak untuk melakukan apa yang kita inginkan? Apakah kita sudah memberinya kesempatan untuk bicara dan mengemukakan keinginan dan cita-citanya sendiri?</p>
<p>Sering kali kita melalaikannya bukan?</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Anak-anak butuh dihargai perasaan-perasaannya, dimengerti dan dipahami pendapat-pendapatnya, dan dibesarkan hatinya.</span></strong> Kebutuhan ini sangat urgen pada masa kanak-kanak. Sebagai orangtua kita tidak boleh memperlakukan anak-anak sebagaimana kita memperlakukan orang dewasa. Cara penanganan anak-anak haruslah menggunakan cara “anak-anak”, bukan cara “orang dewasa”.</p>
<p>Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan ketika anak-anak mulai membantah dan menolak melakukan apa yang kita minta:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> beri dia kesempatan untuk bicara. Perhatikan apa yang disampaikannya, lalu berikan pengertian dengan lembut. Misalnya, adzan sudah berkumandang, namun ia tetap bertahan di depan game komputernya. Anda menegurnya untuk segera berwudhu dan pergi ke masjid. Anak Anda membantah dan menolak untuk bergegas ke masjid. Sebagian besar kita tentunya akan marah dan emosi, serta mengatakan : “kamu nggak dengar mama bilang apa tadi?!”. Coba bicaralah dengan lemah lembut tanpa nada marah kepadanya : “Sayangku, Allah sudah memanggil. Anak sholeh tentu ingin dapat pahala, kan? Ke masjid dulu, yuk! Gamenya kita lanjutkan lagi nanti…”</p>
<p><strong>Kedua,</strong> jika ia tetap ngotot untuk membantah, maka berikanlah pilihan yang tidak disukainya. Misalnya, “Wah, ternyata game lebih penting ya, daripada panggilan Allah untuk sholat? Ya sudah, sekarang pilih deh, mau ke masjid, atau mama cabut kabel komputernya?”. Jangan sekali-kali memperturutkan anak dengan kemauan-kemauannya atau memberikan pilihan-pilihan yang disukainya. Mengapa? Karena anak bandel paling tidak suka diatur-atur. Dengan memberinya pilihan yang tidak disukainya, ia akan berusaha untuk tidak membantah Anda karena ia tidak ingin melakukan atau mendapatkan apa yang tidak disukainya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, konsisten dan berikan pilihan yang paling tidak enak yang tidak disukainya jika ia tetap membantah Anda. Ingat, jangan ulangi pilihan yang sama. Misalnya, jika ia tidak takut jika kabel komputernya Anda cabut, Anda harus konsisten dengan apa yang Anda katakan tadi. Dengan kata lain, benar-benar mencabut kabel tersebut. Jika Anda tidak melaksanakan apa yang Anda ucapkan, dia akan menganggap Anda remeh. Jika ia berusaha untuk menyambungkan kembali kabel yang Anda cabut, maka berikan pilihan: “Oke, terakhir, silakan pilih: pergi sholat dan mama masih memberimu kesempatan untuk bermain game setelahnya, atau mulai hari ini tidak ada game komputer lagi. Mama akan menjualnya dan tidak akan pernah mau membeli komputer lagi.”</p>
<p>Pada awalnya, anak-anak pastilah akan menggerutu. Tapi, selanjutnya, ia akan menentukan pilihan-pilihan yang terbaik baginya tanpa harus memilih sesuatu yang tidak enak karena membantah Anda.</p>
<p>Selain langkah-langkah tersebut, Anda pun harus mulai merubah pola mendidik anak yang selama ini Anda berlakukan. Ajari anak Anda untuk mau berpikir ke depan dan berlatih mandiri. Bagaimana caranya?</p>
<p><strong>Jangan terlalu mendiktenya</strong>. Berikan pilihan-pilihan, selama hal itu memungkinkan. Dengan memberinya kesempatan untuk memilih, Anda berarti telah membantunya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan berlatih mandiri. Anda juga telah membuatnya merasa dihargai. Dengan demikian, sikap-sikapnya yang suka membantah dan membangkang akan berangsur-angsur berkurang dan akan hilang jika dibiasakan seperti ini.</p>
<p><strong>Berikan motivasi dan dukungan</strong> saat ia melakukan sebuah kebaikan atau berlaku sopan. Dengan demikian, ia akan berusaha untuk selalu tampil baik dan melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.</p>
<p><strong>Jangan menakut-nakuti anak dengan akibat buruk kecuali jika diperlukan</strong>. Sebab, setiap anak terdorong untuk mengetahui segalanya dan ingin mencoba segala sesuatunya. Maka berikanlah ia kesempatan untuk mencoba dan memacu kreativitasnya sendiri, sehingga akhirnya ia belajar sendiri akibat baik dan buruknya tentang segala sesuatu, juga terbiasa untuk berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu.</p>
<p>Jika merasa perlu untuk menakut-nakuti anak dengan akibat buruk dari sebuah kejelekan, maka <strong>sampaikanlah dengan bahasa yang santun</strong>, nada kasihan, dan bukan dengan nada marah. Agar ia tergerak untuk meninggalkan sesuatu bukan karena jengkel pada Anda.</p>
<p><strong>Latihlah anak-anak untuk bertanggungjawab</strong> terhadap apa yang telah ia lakukan. Misalnya, Anda merasa perlu untuk menghukumnya, maka jangan ragu-ragu menghukumnya dengan setimpal atas dasar cinta kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengapa-anakku-suka-membantah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEPARATION ANXIETY: JANGAN PISAHKAN AKU!!</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/separation-anxiety-jangan-pisahkan-aku/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/separation-anxiety-jangan-pisahkan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 07:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[ikatan emosi]]></category>
		<category><![CDATA[separation anxiety]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[

Separation anxiety adalah kecemasan yang timbul akibat keterpisahan, baik itu keterpisahan yang bersifat sementara maupun seterusnya. Separation anxiety ini muncul setelah anak mulai menyadari arti kehadiran atau ketidakhadiran Anda, dimana ia telah mulai bergantung pada orangtuanya. Kecemasan ini biasanya muncul secara nyata dan berlangsung pada usia antara 6 bulan sampai 3 tahun. Mengapa bisa begitu?
Setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><img class="size-full wp-image-1367 alignleft" title="bayi5" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/08/bayi5.jpg" alt="bayi5" width="108" height="113" /><br />
</strong></p>
<p><em>Separation anxiety</em> adalah kecemasan yang timbul akibat keterpisahan, baik itu keterpisahan yang bersifat sementara maupun seterusnya. <em>Separation anxiety</em> ini muncul setelah anak mulai menyadari arti kehadiran atau ketidakhadiran Anda, dimana ia telah mulai bergantung pada orangtuanya. Kecemasan ini biasanya muncul secara nyata dan berlangsung pada usia antara 6 bulan sampai 3 tahun. Mengapa bisa begitu?<span id="more-1366"></span></p>
<p>Setiap anak memiliki keterikatan emosi yang sangat kuat terhadap ibu dan orang-orang yang mengasuhnya sejak kecil. Lihatlah ketika Anda meninggalkan bayi Anda, meski sejenak untuk mengambil sesuatu. Atau, Anda menitipkannya pada orang lain saat hendak ke toilet. Apa yang terjadi?</p>
<p>Reaksi awal adalah menangis. Ia menyadari ketidakhadiran Anda di sisinya, dan ia menyadari orang yang menggendongnya bukan Anda, maka ia akan merasa resah dan cemas. Hal ini sangat wajar terjadi, karena ia memiliki ketergantungan dan ikatan emosi dengan Anda, orang yang bersamanya sejak kecil atau bahkan sejak dalam kandungan (dalam hal ini ibu kandung).</p>
<p>Namun, <em>separation anxiety</em> ini tidak hanya terjadi antara anak dengan ibu kandungnya saja, lho. Bisa terjadi juga antara anak dengan pengasuhnya (nenek, bibi, pengasuh, etc). Terlebih jika Anda adalah wanita karir yang bekerja dari pagi hingga malam, yang intensitas untuk bertemu dengan si kecil sangat jarang. Atau, Anda terpisah olehnya karena suatu sebab, yang mengakibatkan sejak kecil ia harus ikut orang lain.</p>
<p>Adik saya yang pertama dulu sangat dekat dengan pengasuhnya. Bahkan lebih senang dengan pengasuhnya dibandingkan dengan ibu saya. Waktu itu memang ibu saya terlalu terfokus pada saya dan abang saya yang mulai sekolah. Sehingga waktunya lebih sering dicurahkan pada kami.</p>
<p>Nah, ketika pengasuh adik saya itu harus kembali ke desanya, adik saya menangis meraung-raung, bahkan sampai sakit. Saat itu saya belum paham mengapa adik saya harus menangis dan sakit. Bukankah ibunya ada disini? Namun, setelah besar, dan saya menemukan banyak kasus serupa, saya menjadi semakin paham.</p>
<p>Kita memang perlu melatih anak untuk mandiri dan tidak terlalu bergantung dengan kita. Dan keterpisahan itu memang sudah sewajarnya terjadi, karena memang dibutuhkan oleh anak sebagai bagian dari proses kemandiriannya. Hanya saja, agar separation anxiety ini tidak terjadi secara berlebihan, kita membutuhkan cara-cara yang tepat untuk melatihnya.</p>
<p><strong>Berilah kesempatan pada anak untuk berada di dekat Anda</strong>, sebelum Anda pergi atau ia tidur. Ajaklah ia untuk berbicara dengan lemah lembut, memeluknya, dan memberinya jaminan bahwa ia akan tetap “aman” meski tanpa Anda di sisinya. Katakan padanya, bahwa Anda akan selalu merindukannya saat ia tak ada di sisi Anda. Dengan demikian, si kecil menjadi berarti, dan ia tahu Anda tetap mencintainya.</p>
<p><strong>Jangan menolaknya saat ia ingin kembali bersama Anda</strong>. Misalnya, ia telah pergi tidur, lalu tiba-tiba ia terbangun dan berlari menuju Anda. Bersabarlah. Memang butuh waktu untuk membuat anak merasa aman tanpa Anda.</p>
<p><strong>Jangan memaksanya secara berlebihan dan bersikap ekstrem</strong>. Saya sering menjumpai kasus, dimana seorang ibu memaksa anaknya untuk ikut dengan pengasuhnya sambil mengancam atau sebaliknya, memberinya iming-iming. Bisa juga kebalikan, misalnya, anak biasa tinggal dengan orang lain, lantas tiba-tiba Anda memaksanya untuk ikut dengan Anda tanpa memberinya kesempatan untuk mengemukakan keinginannya.</p>
<p>Anda pernah nonton film anak “UNTUK RENA”? Kisah seorang yang anak yang ditinggalkan ayahnya dipanti asuhan, besar disana, sampai suatu hari ayahnya ingin mengambilnya kembali. Apa yang terjadi? Tentu saja Rena menolak ikut ayahnya. Itu adalah sebuah reaksi yang sangat wajar. Sejak kecil ia berada dalam asuhan orang lain, bersama dengan anak-anak lain. Wajar saja jika ia menolak secara frontal untuk ikut ayah kandungnya.</p>
<p>Ketika Anda ingin mengambilnya dari pengasuhan orang lain sebelum Anda, ada baiknya <strong>biarkan ia perlahan-lahan beradaptasi</strong>. Ijinkan ia untuk tetap bertemu dengan pengasuh lamanya secara bertahap. Rewel, tentu saja. Ia mungkin akan bersikap lebih manja terhadap pengasuhnya. Hal ini wajar. Reaksi-reaksi tersebut adalah wujud dari rasa rindunya, juga rasa kesalnya, karena ia merasa ditinggalkan secara paksa oleh pengasuh lamanya.</p>
<p><strong>Berikan waktu baginya untuk dapat berjalan-jalan sebentar bersama pengasuhnya</strong>, atau bahkan menginap seminggu sekali. Sambil terus memberinya pengertian. Anda bisa juga mempelajari pola asuh pengasuh sebelumnya, bagaimana mengatasi kerewelan-kerewelannya, bagaimana membujuknya.</p>
<p>Usahakan, <strong>jangan gunakan ancaman atau iming-iming</strong>. Ini sangat tidak mendidik. Anak yang terbiasa diancam, akan mudah menjadi anak yang minder. Anak yang terbiasa dengan iming-iming, akan belajar menggunakan senjata menangisnya agar keinginannya terwujud.</p>
<p>Saya mengerti, Anda mungkin akan merasa sedih ketika melihat anak Anda justru lebih dekat dengan orang lain. Namun, pahamilah, bahwa begitulah anak-anak. Anda tidak boleh memaksanya. Karena paksaan justru akan membuatnya tertekan, menarik diri, tidak mempercayai siapapun, merasa tak berarti. Lakukan pendekatan dari hati ke hati dengannya. Berikan ia kesempatan untuk menyesuaikan diri. Anda bisa saja membuat “kontrak” dengannya. Misalnya, memberinya ijin untuk menginap di rumah pengasuhnya, atau memakai telepon untuk tetap berhubungan dengan pengasuhnya.</p>
<p>Dengan demikian, selain Anda telah menghormati perasaan anak Anda, Anda pun telah menghormati orang-orang yang telah berjasa dalam menjaga dan mengasuh anak Anda. Sering kali, ego membuat kita menjadi lupa akan budi seseorang pada kita. Tentunya, kita tak ingin bukan, menjadi seorang yang tidak tahu membalas budi?</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/separation-anxiety-jangan-pisahkan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGKRITIK ANAK TANPA DIBENCI</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengkritik-anak-tanpa-dibenci/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengkritik-anak-tanpa-dibenci/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 03:12:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan emosional]]></category>
		<category><![CDATA[kritik anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian emosi]]></category>
		<category><![CDATA[seni mengkritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[
Biasanya, anak-anak akan lekas marah jika ia dikritik oleh orang tuanya meski jelas-jelas ia berbuat kesalahan. Kita sendiri sebagai orang tua pasti pernah bahkan mungkin sering mengkritik anak-anak kita sehingga membuatnya patah semangat, marah, dan akhirnya semakin menarik diri.

Sebagai orang tua, kita dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Kita tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1128 alignleft" title="kritik4" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/07/kritik4.jpg" alt="kritik4" width="73" height="104" /></p>
<p>Biasanya, anak-anak akan lekas marah jika ia dikritik oleh orang tuanya meski jelas-jelas ia berbuat kesalahan. Kita sendiri sebagai orang tua pasti pernah bahkan mungkin sering mengkritik anak-anak kita sehingga membuatnya patah semangat, marah, dan akhirnya semakin menarik diri.</p>
<p><span id="more-1127"></span></p>
<p>Sebagai orang tua, kita dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Kita tidak bisa sembarangan memberikan kritikan, mencela apa-apa yang dilakukan anak, meski itu sudah jelas kesalahannya.</p>
<p>Bagaimana cara menyampaikan kritik tanpa harus “dibenci” oleh anak?</p>
<p><strong>Sampaikan secara tidak langsung</strong>. Misalnya, anak-anak Anda yang besar ribut, sementara Anda harus menidurkan bayi Anda. Anda mungkin akan meresponnya dengan marah atau mengusirnya pergi. Tentu mereka akan balas merespon Anda dengan marah dan menggerutu bukan? Anda mungkin bisa memberi mereka sebuah bola, dan berkata, “Ibu akan senang jika kalian bermain bola di luar”. Anak-anak Anda akan tahu bahwa mereka telah berbuat keributan, namun mereka akan senang karena Anda tidak menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka. Anda justru memberi mereka hadiah, yang dengan itu mereka akan menghargai usaha Anda dengan bermain di luar, tanpa harus merasa marah.</p>
<p><strong>Berikan pujian yang tulus dan hilangkan kata “tetapi”.</strong> Sering kali, kita memberikan kritik dengan didahului oleh pujian, kemudian mengiringinya dengan kata “tetapi”, kemudian mengakhiri dengan pernyataan kritik. Hal tersebut seolah Anda meninggikannya, lalu menjatuhkannya sampai titik terendah. Tujuan atas kritik tersebut tentu takkan tercapai. Jika Anda ingin memuji, maka pujilah yang tulus. Ganti kata “tetapi” dengan kata “dan”. Misalnya, nilai anak Anda menurun pada ujiannya semester ini, karena kecerobohannya. Anda mungkin akan memujinya, “Ibu senang, nilaimu bagus pada semester ini. Tetapi, jika kamu mau berusaha, kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik lagi”. Anak Anda mungkin senang karena Anda memujinya, tapi, itu hanya sampai pada kata sebelum “tetapi”. Ketika ia mendengar kata “tetapi”, ia akan meragukan kejujuran Anda dalam memujinya. Coba gunakan kata “dan” untuk membuatnya lebih percaya pada ketulusan Anda. Misalnya, “Ibu bangga karena nilaimu bagus semester ini, dan dengan berusaha keras, ibu yakin, semester depan kamu bisa juara kelas”.</p>
<p><strong>Berikan contoh.</strong> Anda pasti kesal, jika anak-anak Anda bermain hingga membuat rumah berantakan dan meninggalkannya begitu saja setelah selesai. Jika Anda marah, mereka mungkin saja mengerjakannya untuk Anda. Tapi, tentu dengan kemarahan yang sama. Coba berikan mereka contoh. Anda bereskan mainannya hingga benar-benar rapi. Lalu, jika esok mereka ingin mulai bermain lagi, katakan pada mereka, “Ibu senang sekali kalian bermain dengan sangat bertanggungjawab seperti kemarin. Terimakasih telah membuat rumah kembali bersih”. Secara spontanitas, mereka tahu Anda sedang mengkritik mereka. Namun, karena Anda tidak menyebutkan kesalahan mereka secara langsung, mereka akhirnya memberikan timbal balik dengan cara selalu merapikan mainan setelah selesai bermain.</p>
<p>Sesuatu yang sederhana, bukan? Kuncinya hanya satu: perbaiki kemampuan komunikasi Anda dengan anak. Mari, kita bersama-sama meredam rasa marah, kesal, frustrasi, atas tingkah laku yang tidak mengenakkan. Kita coba menjadi lebih bijak. Karena kitalah orang  tua mereka, dimana mereka akan melihat dan mencontoh cara kita mendidik anak-anak. Jika kita salah dalam memberikan contoh, maka kelak mereka juga akan salah dalam mendidik anak-anak mereka. Lantas, bagaimana kita bisa mewujudkan generasi yang terbaik jika begitu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/mengkritik-anak-tanpa-dibenci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BILA ANAK TERLALU BERGANTUNG</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/bila-anak-terlalu-bergantung/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/bila-anak-terlalu-bergantung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 15:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[ketergantungan]]></category>
		<category><![CDATA[over dependent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[

“Pokoknya, maunya sama mama…!!”
Mama Febi tampak frustrasi melihat bungsunya, Febi, yang masuk TK tahun ini menangis dan berteriak-teriak. Tampak guru kelasnya tengah membujuk dan memeluknya agar menghentikan tangisnya. Ini sudah sebulan sejak masuk sekolah, dan Febi belum juga mau ditinggal.
Saat ditanya mengapa selalu menangis di sekolah, Febi selalu menjawab, “Nggak kenapa-kenapa,”. Tentu saja itu membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-1063" title="kunci" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/07/kunci.jpg" alt="kunci" width="116" height="116" /><br />
</strong></p>
<p>“Pokoknya, maunya sama mama…!!”</p>
<p>Mama Febi tampak frustrasi melihat bungsunya, Febi, yang masuk TK tahun ini menangis dan berteriak-teriak. Tampak guru kelasnya tengah membujuk dan memeluknya agar menghentikan tangisnya. Ini sudah sebulan sejak masuk sekolah, dan Febi belum juga mau ditinggal.</p>
<p>Saat ditanya mengapa selalu menangis di sekolah, Febi selalu menjawab, “Nggak kenapa-kenapa,”. Tentu saja itu membuat mama Febi dan gurunya menjadi bingung menanganinya. Sebab, tidak ada apa-apa pun, Febi selalu enggan masuk kelas dan langsung menangis serta mengamuk jika tak menemukan mamanya di depan kelas.</p>
<p><span id="more-1064"></span></p>
<p>Anda tentu sebal dan frustrasi jika si kecil kesayangan Anda tidak juga mandiri dan terlalu bergantung pada Anda. Tapi, tahukah Anda, bahwa sikap terlalu bergantung ini bisa jadi karena Anda juga?</p>
<p><strong>Tidak matang</strong>. Anak-anak yang <em>over dependent</em> atau terlalu bergantung menunjukkan tanda-tanda ketidakmatangan. Anak tipe ini biasanya selalu menangis, merengek, bahkan mengamuk sebagai usahanya mencari bantuan, perhatian, dan kasih sayang secara berlebihan. Ini sering terjadi di awal-awal anak masuk sekolah. Mereka juga membutuhkan kedekatan fisik dengan orang dewasa (dalam hal ini ibunya). Sebagian besar orang tua merasa gelisah dan khawatir dengan ketergantungan anak yang demikian. Namun, tak sedikit pula yang bersikap santai-santai saja dan percaya bahwa ini adalah perilaku yang wajar dan anak akan mengatasinya sendiri kelak.</p>
<p>Mengapa bergantung?</p>
<p>Sikap orang tua yang <strong>terlalu permissif</strong> bisa menjadi penyebab anak-anak menjadi bergantung. Misalnya, orang tua susah memberikan batas-batas karena takut anaknya menganggapnya terlalu keras dan galak. Sehingga, dengan mudah mereka mengabulkan semua tuntutan anak. Akibatnya, anak pun memanipulasinya dengan menjadikan rengekan dan tangisan untuk memenuhi tuntutannya.</p>
<p><strong>Merasa diabaikan</strong>. Anak-anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian akan menggunakan senjata menangis dan merengek untuk mendapatkan perhatian orang-orang sekitarnya. Anak seperti ini sebaiknya mendapatkan waktu dan perhatian khusus.</p>
<p>Orang tua terkadang juga <strong>merasa bersalah</strong> terhadap anak-anaknya, lantaran terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehingga, setiap rengekan kecil sang anak selalu saja dituruti. Orang tua tipe ini biasanya selalu berdalih “kasihan” dan “tidak mau repot” dengan tangisan anak. Sehingga, rasa bersalah karena jarang ada bersama anak-anaknya membuatnya tidak sadar telah bersikap terlalu memanjakan.</p>
<p><strong>Terlalu takut</strong>. Beberapa orang tua bersikap terlalu melindungi anak-anaknya. Ada bahkan yang sampai tak ingin anak-anak keluar halaman rumah tanpa pengawasannya karena menilai lingkungan di luar rumah terlalu kasar dan keras bagi anak-anak. Secara tidak langsung, mereka pun juga mendorong anak berperilaku kekanakan dan akhirnya terlalu bergantung pada mereka.</p>
<p>Bagaimana mengatasinya?</p>
<p><strong>Dukung si kecil untuk bersikap mandiri</strong>. Anda bisa melatihnya sejak dini untuk belajar mengurus dirinya sendiri dalam hal-hal kecil. Makan dan minum, misalnya. Dorong anak untuk belajar menentukan pilihannya, seperti makanan yang ingin dimakan hari ini, atau pakaian mana yang ingin dipakainya. Jangan terlalu memainkan peran dan menguasai anak secara berlebihan.</p>
<p><strong>Jangan memanjakan</strong>. Berikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Jangan asal menuruti semua yang ia minta. Jika perlu, ajari mereka sejak dini untuk menabung, sehingga mereka dapat belajar memenuhi keinginan mereka sendiri dengan usaha. Meraka akan lebih mudah menghargai sesuatu jika sedari kecil mereka terbiasa berusaha sendiri.</p>
<p><strong>Berikan perhatian yang cukup</strong>. Jangan menunda-nunda atau bersikap cuek terhadap anak Anda. Jadilah pendengar dan pemerhati yang baik bagi mereka. Jika pun kita harus menjawab “tidak” pada mereka, maka berikan alasan yang jelas dan tegas mengapa Anda bersikap demikian.</p>
<p>Selalu <strong>ingatkan</strong> anak setiap kali mereka tidak mandiri. Berikan peringatan atau teguran dengan cara yang baik. Dorong ia untuk merasa bahwa ia dapat bersikap “lebih dewasa” dan ingatkan betapa senangnya bisa melakukan banyak hal seperti anak yang sudah besar.</p>
<p><strong>Berlakukan sistem imbalan</strong>. Buatlah kesepakatan dengan anak Anda tentang hukuman dan hadiah tentang perilakunya. Misalnya, Anda akan memberinya kesempatan bermain komputer selama 1 jam jika ia bersikap baik dan mandiri. Tapi, jika ia bersikap sebaliknya, Anda tidak akan memberinya jatah bermain komputer hari itu.</p>
<p>Segera berikan penanganan jika anak Anda telah terlanjur bergantung pada Anda. Jangan bersikap cuek dan bersantai-santai. Mengapa? Karena hal ini akan semakin menyulitkan Anda kelak. Mari kita belajar menjadi orangtua yang bijak!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/bila-anak-terlalu-bergantung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
