manfaat dongengMendongeng atau bercerita sering dianggap sebagai hal yang sederhana. Padahal lewat bercerita, seorang anak bisa diajarkan segala hal, mulai dari belajar bahasa, pengetahuan umum, etika, kreativitas, sampai mendekatkan orangtua dengan anak.

Mendongeng, bercerita, atau mendampingi anak saat mereka sedang membaca buku sudah jauh-jauh hari dianjurkan psikolog anak Seto Mulyadi atau Kak Seto.

Dalam sebuah kesempatan, pria yang selalu berwajah sumringah ini mengatakan bahwa dengan mendongeng, komunikasi antara orangtua dan anak akan lebih efektif.  “Mengajar bahasa Indonesia pada mereka juga lebih mudah,” katanya.

Tentu saja, itu hanya sebagian kecil dari manfaat bercerita. Manfaat lebih besar, dan paling mendasar ialah bahwa bercerita bisa dijadikan alat untuk membentuk perilaku dan nilai-nilai dasar yang penting bagi perkembangan karakter anak.

Nah, waktu yang tepat untuk hal tersebut ialah saat anak berusia 1-5 tahun, atau yang sering disebut sebagai golden age atau usia emas. Pada usia emas, anak-anak akan mudah sekali menyerap sesuatu dari lingkungan sekitarnya. Mereka akan dengan mudah meniru sesuatu yang mereka lihat atau dengar.

Ini menjadi jawaban mengapa anak-anak yang tumbuh di era sekarang mudah sekali menghafal lagu-lagu orang dewasa, karena hanya itulah yang mereka lihat di sekelilingnya. Cara penanaman nilai ini juga dinilai akan mengembangkan kreativitas anak, dibanding lewat perintah atau instruksi yang akan membunuh kreativitas anak. Menurut psikolog yang juga dosen di Universitas Airlangga Budi Setiawan, saat mendengar atau membaca sebuah cerita, seorang anak akan membangun definisinya sendiri tentang segala hal yang ada di cerita tersebut. Imajinasinya akan berkembang seiring jalannya cerita.

Meski dongeng dan bercerita merupakan cara ampuh dalam mendidik anak usia dini, namun orangtua juga tidak boleh sembarangan dalam menceritakan dongeng kepada anak-anak. Karena ada dongeng-dongeng yang ternyata bisa saja tidak sesuai dengan nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan.

Orangtua harus membaca dan memilah dulu dongeng atau cerita yang ingin dibacakan kepada anak. Cerita juga harus disesuaikan dengan tumbuh kembang anak, agar anak mampu mencerna cerita dengan baik dan akhirnya tertancap di benaknya hingga dewasa nanti.

Orang tua adalah pendidik pertama. Karenanya hubungan kedekatan dengan orangtua akan menjadi pola sosialisasi anak usia dini. Namun sayangnya fakta menunjukkan bahwa anak banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Sementara banyak orangtua yang juga sibuk mencari nafkah.

Karena itulah orangtua harus kreatif memanfaatkan waktu yang berkualitas bersama anak. Salah satunya bisa dilakukan dengan mendongeng karena ternyata cara ini dapat mencerdaskan anak.

Menurut Ketua Keluarga Peduli Pendidikan Yanti Sriyulianti, kebutuhan anak atas perhatian dan pengasuhan yang intensif dari orangtuanya tidak dapat ditunda. Hubungan antara anak dan orangtua mempunyai peran penting dalam menentukan pola perkembangan psikis, sosial, dan emosional di masa depan.

Untuk itu, diperlukan komitmen dan kesungguhan orangtua untuk meningkatkan kemampuan berkreasi dalam mengisi waktu berkualitas bersama anak-anak. “Diantara banyak metode, mendongeng diyakini efektif bagi pendidikan anak usia dini. Menurut seorang pengarang dan ilustrator cerita anak terlaris versi New York Times Laura Numeroff, membacakan dongeng untuk anak selama 20 menit dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam membaca dan menulis. 20 menit mendongeng setara dengan sekurang-kurangnya belajar 10 hari di sekolah,” katanya.

Mungkin sebagian orangtua, membacakan dongeng untuk anak sebelum tidur tidaklah terlalu penting. Padahal, disadari atau tidak, kebiasaan itu membuat anak Anda terbiasa membaca lho.

http://koran.republika.co.id/images/news/2008/11/20081103130849.jpg