Posted by admin 2 | Posted in PARENTING | Posted on 13-01-2010 | 1,933 views
Tags: anak hiperaktif, hiperaktif
Bunda Rama merasa kewalahan menghadapi putra semata wayangnya yang berusia 5 tahun. Hampir setiap hari ada saja laporan dari guru di sekolah atau tetangganya tentang kenakalan-kenalan Rama. Menurut psikolog yang didatangi oleh bunda Rama, ternyata Rama tergolong anak yang hiperaktif. Dan bagi sebagian besar ibu, memiliki anak hiperaktif adalah ketakutan yang sangat besar.
Ada tiga gejala yang mengindikasikan seorang anak memiliki gangguan hiperaktif:
- Inatensi, yakni rendahnya pemusatan perhatian atau konsentrasi pada anak. Anak-anak degan gangguan hiperaktif tidak atau hanya memiliki kemampuan berkonsentrasi yang sangat rendah. Perhatiannya begitu mudah teralihkan dari satu hal ke hal yang lainnya.
- Hiperaktif, yakni anak tidak bisa diam. Ia banyak melakukan gerakan-gerakan dan begitu sulit untuk dibuat duduk diam dan tenang. Ia senang berlari-lari, membuat suara-suara berisik, berjalan kesana kemari, dsb. Karena itu, seringkali anak hiperaktif pulang dengan membawa banyak luka akibat ulahnya sendiri.
- Impulsif, yakni lemahnya menunda respon. Perilaku impulsive ini ditandai dengan ketidakmampuan anak mengendalikan sesuatu. Ia biasa melakukan segala sesuatunya tanpa pertimbangan dan sering kali ditunjukkan dengan ketidaksabaran.
Nah, ketika anak mengalami gangguan hiperaktif ini, para ibu biasanya menjadi gugup dan kebingungan. Sering kali mencoba menutup diri dan tidak mau mengakui apa yang dialami anaknya. Padahal, sebetulnya, tidak perlu gugup atau kuatir yang terlalu tinggi.
Menerima dengan ikhlas. Segala sesuatunya telah ditentukan oleh Yang Maha memberikan anak, yaitu Allah. Jika Allah menguji kita dengan hadirnya anak dengan gangguan hiperaktif, itu tandanya Allah Tahu bahwa kita mampu dan dapat mengatasi serta mendidik anak dengan sebaik-baiknya.
Anak hiperaktif cenderung memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ini yang sering kali dilupakan bahkan tidak diperhatikan. Para ibu cenderung bergulat dan berkutat pada kesedihan dan kekecewaan terhadap putranya. Tapi tidak mau melihat, bahwa anak-anak dengan gangguan hiperaktif ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tugas ibulah yang mencari dan menggali kecerdasan ini.
Ajarkan kedisiplinan. Anak-anak hiperaktif cenderung tidak disiplin. Mereka tidak mau tenang, dan cenderung membangkang. Tidak patuh pada aturan. Nah, jika demikian, maka Anda harus membuat sebuah “kontrak” perjanjian dengannya untuk berlatih disiplin.
Tidak menghukumnya secara berlebihan. Bukan salah anak Anda jika ia hiperaktif. So, jangan menghukumnya karena gangguan hiperaktif ini. Melatihnya berdisiplin, oke. Tapi, dengan cara yang baik dan benar.
Lebih banyak bersabar. Ini adalah tuntutan utama bagi para orangtua. Tanpa kesabaran, maka Anda tidak akan dapat menangani anak Anda dengan baik.
Menjaga komunikasi dan biarkan ia merasakan kasih sayang Anda. Ketika anak melihat dan merasakan perhatian yang diberikan orangtuanya, dan memang, perlu diakui, bahwa menjalin komunikasi dengan anak-anak hiperaktif ini harus senantiasa. Ibaratnya, harus setiap menit kita mengajaknya berkomunikasi. Dan bukannya memanjakan, perhatian terhadap anak-anak hiperaktif memang harus lebih banyak dibandingkan saudara-saudaranya yang normal.




Tks Pondok Ibu,
Dengan membaca artikel ini saya ada masukan mengenai anak hiperaktif. Saya seorang single parent dengan 2 anak. Anak saya yang kedua cenderung hiperaktif malah pada awalnya saya menyangka dia amat nakal dan sulit di atur, tidak nurut…wah pokoknya saya frustasi mengahadapi anak saya yang bungsu ini dan itu masih berlanjut hingga saat ini. Hampir setiap hari saya mendapat laporan dari omanya kalo anak saya yang bungsu ini selalu bikin marah, kesal…. Tidak jarang saya menghukum dia dengan keras, tapi dia tidak kapok keesokan harinya dia berbuat kesalahan atau hal2 yang sudah saya larang….kira2 kegiatan apa yang sebaiknya saya berikan agar kelebihan aktifnya itu dapat disalurkan..yang saya takutkan jika dia sudah remaja semakin sulit diatur. Mohon masukkannya. Tks.
saya memiliki seorang anak laki-laki umur 3 tahun.
anak saya ini setiap harinya dari pagi hingga sore tinggal bersama nenek, kakek dan bibinya yang masih kelas 6 SD, sore sepulang kerja baru dijemput baik oleh ayahnya maupun saya.
nah kalau ditempat kakek neneknya anak saya ini tidak begitu lasak, tetapi kalau sudah dirumah bersama saya dan suami, tingkah dan kelakuannya sangat keterlaluan, nakal, suka memaksakan kehendak, suka menjerit, suka marah marah, dan sangat tidak sabaran. segala upaya sudah saya coba, mulai dari membujuknya, menasehatinya, memarahinya, meghukumnya bahkan mendiamkan semua kelakuannya. tapi tidak juga anak saya ini berubah.
lalu saya masukkan sekolah TK, namun anak saya ini tidak mau.. saya benar-benar kehabisan akal bu.
tolong saya bagaimana cara menghadapi dan mengatasinya ya… kirim saja via email saya.
terimaksih.