mostly-sunny[1]“Izzi, anak sholeh, ayo ke masjid dulu…sudah adzan lho…”

Anak mana yang tidak senang jika dipanggil dengan panggilan yang baik atau panggilan kesayangannya? Tentu semuanya senang. Bahkan kita pun, orang dewasa, senang jika dipanggil dengan nama kesayangan kita, bukan?

Rosulullah sendiri telah mengajarkan kita untuk memanggil anak-anak dengan panggilan yang baik, dengan memberikan nama-nama yang baik pula. Lihat bagaimana Rosulullah memanggil Aisyah dengan “Humaira”, atau lihat bagaimana Luqman Al Hakim memanggil anaknya, “Ya Bunayya…”.

Adalah hak anak untuk mendapatkan nama-nama yang baik dan panggilan yang baik. Selain memilih nama dengan arti baik, hindari pemberian nama yang bisa jadi bahan ejekan atau dipelesetkan menjadi arti yang kurang baik. Mengapa? Karena anak-anak dan remaja, biasanya senang bermain-main dengan nama.

Islam melarang pemberian nama pada anak yang tidak baik atau berarti ketidakberuntungan, kesialan, kesedihan, kekurangan, bencana, atau yang membuat penyandang namanya bersifat pesimis. Ingat, nama adalah do’a.

Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-namamu.” (HR. Muslim).

Ketika kita memanggil dengan panggilan yang buruk,misalnya, “si bodoh” atau menghina fisiknya yang kurang seperti “si pincang”, maka anak-anak akan belajar untuk rendah diri. Ketika besar, ia akan memiliki kerendah dirian yang sangat besar. Ia akan berpikir bahwa ia seperti yang orang-orang juluki untuknya. Padahal, meski ia cacat sekalipun, seharusnya panggilan untuknya tetaplah panggilan yang baik yang dapat memotivasinya untuk percaya diri di tengah keterbatasan.