love momKalau ada hati yang paling luas, itu adalah hati seorang ibu. Pernahkah kita merenung, menengok ke belakang, sesaat saja. Mengambil sebuah slide, satu episode saja dari kehidupan kita di masa kecil. Pernahkah kita berbuat salah pada ibu? Membentaknya, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, bahkan memukulnya?

Tentu pernah. Dan ibu selalu memaafkan semua kesalahan yang pernah kita buat. Ibu, sang pemilik hati yang besar…dan luas.

Saya pernah cemburu, karena ibu saya memperhatikan teman saya, bahkan orang yang pernah berseteru dengan saya. Ibu berbuat baik pada mereka, memperhatikan mereka, seperti memperlakukan anaknya sendiri.

Ketika itu saya marah. Saya tidak senang ibu saya terlalu memperhatikan anak lain. Lha wong, saya anaknya, dan masih banyak anak ibu yang lain. Kenapa ibu harus memperhatikan anak orag lain? Mereka kan, punya ibu sendiri. Apalagi jika itu “musuh” saya. Dia kan sudah jahat pada saya. Kenapa ibu malah baik padanya?

Ternyata, saya baru tahu, ibu melakukan itu demi saya. Ibu berbuat baik pada teman saya, karena dia teman saya. Tentu saya menyayanginya. Bila saya sayang pada teman saya, maka ibu juga akan menyayanginya.

Ibu berbuat baik pada “musuh” saya, karena ibu tidak ingin orang tersebut terus menerus menyimpan dendam dan kemarahan pada saya. Ibu takut jika saya celaka, entah karena dia kalap atau karena doanya. Ibu ingin, kebaikan ibu terhadapnya bias meredam semua kemarahannya terhadap saya.

Sungguh, saat mengetahui hal tersebut, saya sangat terharu. Begitu besarkah hati ibuku, sampai ia rela menerima caci maki pada awalnya, demi menundukkan hati orang-orang yang menyimpan dendam pada anak-anaknya. Begitu besar hati ibu, sampai kesalahan terbesar apapun, ibu berusaha memaafkan, berusaha mengembalikan anak-anaknya pada jalan yang benar…

Duhai ibu…

Betapa aku ingin, meraih surga di telapak kakimu…