masjidAllahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar walillahil hamd…

Gema takbir berkumandang, tabuh berbunyi bertalu-talu, menyeru umat Islam untuk melaksanakan shalat ‘ied berjama’ah di lapangan. Hewan-hewan qurban telah disiapkan, menanti untuk segera dibagikan kepada mereka yang berhak.

Berqurban, sebuah anjuran bagi mereka yang mampu untuk menyembelih hewan sebagai bukti keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah. Sebagaimana kisah Ibrahim ‘alaihissalam yang menyembelih puteranya Ismail ‘alaihissalam karena taat pada Allah.

Dalam kisah tersebut, Allah memerintahkan Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih puteranya. Disinilah keimanannya teruji. Siapakah yang lebih ia cintai; Allah ataukah puteranya? Sebuah konsekuensi yang sangat besar. Bagaimana tidak, Ismail ‘alaihissalam adalah putera yang telah ia tunggu-tunggu kehadirannya. Namun,perintah Allah juga merupakan sesuatu yang tak terbantahkan.

Akhirnya, Ibrahim pun memilih kecintaannya pada Rabb-nya. Dan serta merta mematuhi perintah-Nya untuk menyembelih puteranya, Ismail ‘alaihissalam. Keikhlasan itupun berbuah. Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang gemuk.

Legenda ini termaktub dalam Al-Qur’an, telah kita baca berulang kali, kita mendengar ceritanya, dan sudah sepantasnyalah kita meneladani potret keduanya. Bagaimana seorang hamba mencintai Allah melebihi segalanya.

Marilah kita sejenak menginstrospeksi diri kita: apakah kecintaan kita terhadap Allah telah menjadi yang utama dibandingkan dengan segala perhiasan dunia yang kita miliki saat ini? Sejauh manakah kita mau berkorban dan memiliki keikhlasan untuk beribadah hanya karena-Nya?

Sering kali kita lalai, kita beribadah, beramal, bukan karena Allah. Namun karena sesama makhluk. Karena kita ingin dilihat oleh sesama kita, bahwa kita begini dan begitu. Yang pada akhirnya terjatuh pada jurang riya’.

Sering kali pula kita melalaikan kewajiban kita kepada Allah demi sebuah kesenangan semu; jabatan, pekerjaan, wanita, harta, dsb. Banyak dari kita yang melalaikan shalat wajib karena pekerjaannya. Dan alasan-alasan lain.

Mari, jadikan momen 10 Dzulhijjah ini sebagai momen pembuktian kecintaan kita kepada Allah.

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430 H.