tanda-tanya

Saya masih ingat betul, sampai sekarang, betapa cerewetnya saya jika sudah penasaran terhadap sesuatu. Saya selalu bertanya, “kenapa begitu?” atau “kok bisa?” atau “kenapa kalau ini begini, kalau itu begitu?” dan lain sebagainya. Saya suka bertanya secara mendalam, dan senang mencari jawaban sejelas-jelasnya.

Dulu, saya pikir, apa susahnya menjawab? Kenapa ibu saya selalu berbelit-belit atau bahkan menolak untuk menjawab semua pertanyaan saya? Bukankah seharusnya orang besar itu selalu memiliki jawaban?


Setelah dewasa, dan saya baru tahu rasanya berada dalam posisi ibu saya waktu itu. Betapa kewalahannya saya menghadapi sekian banyak pertanyaan “mengapa” dari anak-anak didik saya. Phieww…

Memang sudah menjadi tabiat anak-anak yang sedang mengalami tumbuh kembang untuk selalu merasa penasaran dan menjadi banyak bertanya. Sebagai orang tua, kita dituntut untuk menjadi cerdas dan bijak dalam memberikan jawaban. Namun, tak berarti kita harus mengetahui segala-galanya, lho.

Jika ada pertanyaan yang Anda belum mengetahui jawabannya, maka jangan takut untuk memberi tahu mereka bahwa Anda belum mendapatkan jawabannya. Namun, beri siasat, agar anak Anda tidak kecewa (atau bahkan beberapa anak akhirnya mengecap ibunya “bodoh” lantaran tak bisa selalu menjawab pertanyaannya), yakni dengan mengajaknya mencari jawaban bersama-sama. Lewat ensiklopedi atau buku bacaan lain, misalnya.

Berikan umpan balik, agar mereka tak hanya sekedar menjadi “penanya” saja. Namun ajarkan mereka untuk “berpikir” bersama-sama. Misalnya, “kenapa kamu bisa berpikir begitu?” atau “menurutmu sendiri bagaimana?”

Jangan menjadi cepat jengkel dengan pertanyaan-pertanyaannya. Relaks saja. Jika Anda tak tahu jawabannya, jawab saja Anda tidak mengetahuinya. Berilah si kecil pengertian, bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dimengerti oleh anak-anak, dan ia harus “bersabar” hingga tiba masanya ia bisa diberi penjelasan.

Jangan berikan jawaban sembarangan. Seorang murid saya pernah melaporkan hasil diskusinya dengan sang ayah, saat ia bertanya “darimana datangnya adik bayi?”. Ayahnya menjawab, bahwa adik bayi terbuat dari tepung terigu dan telur. Mungkin saja, jawaban tersebut untuk mengalihkan perhatiannya, namun, jawaban tersebut bukanlah sebuah jawaban yang mendidik. Mengapa?

Pertama, karena jawaban tersebut adalah bohong. Kita tidak dituntut menjawab pertanyaan senada dengan itu dengan jawaban langsung seperti “ya, dari sperma dan ovum”. Jelas, anak-anak belum mengerti. Tapi, kita bisa mengakalinya dengan “Allah menciptakan adik bayi, dan menitipkannya di perut ibu.” .

Kedua, tidak mendidik. Jawaban tersebut adalah salah satu bentuk pembodohan terhadap anak-anak. Dan tentu saja, itu tidak dapat dibenarkan. Sudah seyogyanya para orang tua untuk bersikap lebih bijak dalam menjawab pertanyaan anak-anak.