mainan3

Perilaku destruktif pada anak sering kali membuat para orang tua bingung, kewalahan, dan frustrasi. Perilaku ini memiliki kecenderungan untuk merusak benda-benda. Seorang murid saya di sekolah juga ada yang menunjukkan perilaku ini. Banyak benda dan mainan di sekolah yang sering menjadi sasaran perilakunya ini.

Apakah destruktif selalu karena alasan marah atau luapan emosi?

Ternyata tidak. Perilaku destruktif bisa dilakukan tanpa sengaja atau juga dengan sengaja.Pada kondisi pertama, destruktif yang tidak disengaja, ini biasa terjadi pada anak-anak yang ceroboh, atau anak dengan kelebihan energi. Anak-anak tipe ini biasanya tidak menyadari kelebihan energi mereka. Mereka senang mencoba-coba membongkar sesuatu karena keingintahuan yang besar.

Sedangkan pada kondisi kedua, yakni destruktif yang disengaja, ini biasa terjadi pada anak-anak dengan control emosi yang lemah. Mereka gemar melakukan kerusakan di saat marah. Membanting sesuatu, memecahkan gelas dan barang-barang lain.

Orang tua perlu tanggap untuk segera melakukan pencegahan sejak dini jika anak menunjukkan gejala-gejala seperti ini.

Hentikan dengan segera. Jika anak Anda mulai merusak, segera ambil mainan atau barang yang sedang di rusaknya. Beri teguran tegas, dan mintalah ia untuk menjelaskan alasan pengrusakannya. Setelah itu, mintalah anak untuk menenangkan dirinya, bila ia melakukannya sambil marah. Untuk memberinya “pelajaran”, Anda bisa memintanya untuk mengganti barang yang ia rusak dengan uang sakunya sendiri.

Pahami anak dengan cara mencari tahu penyebab tingkah lakunya yang destruktif itu. Beri pujian jika perilaku destruktifnya menurun. Selalu ingatkan anak untuk belajar mengontrol emosinya.

Jika anak Anda adalah tipe anak yang mudah marah dan susah mengendalikan emosinya, Anda mungkin perlu mencoba cara ini: sediakan sebuah papan kayu yang agak tebal. Setiap kali anak Anda marah, mintalah ia untuk meluapkan amarahnya dengan memukulkan paku pada papan tersebut. Pada suatu saat nanti, papan tersebut akan penuh dengan paku-paku. Mintalah ia untuk mencabuti paku tersebut dengan catut. Apa yang akan terjadi? Tentunya papan kayu itu akan penuh dengan lubang-lubang. Anda bisa menjelaskan padanya, bahwa kemarahannya ibarat paku-paku itu. Merusak. Menyakiti orang lain. Dan akan sulit (bahkan tak pernah bisa) untuk mengembalikannya seperti semula…