<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok IBU &#187; Tumbuh Kembang Anak</title>
	<atom:link href="http://pondokibu.com/category/parenting/tumbuh-kembang-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pondokibu.com</link>
	<description>Informasi Seputar Dunia Ibu &#38; Anak</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Jul 2010 15:09:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Defisiensi Kalsium Pada Anak Menyebabkan anak Hiperaktiv?</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/defisiensi-kalsium-pada-anak-menyebabkan-anak-hiperaktiv/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/defisiensi-kalsium-pada-anak-menyebabkan-anak-hiperaktiv/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 00:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[ADHD]]></category>
		<category><![CDATA[anak bermasalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak hiperaktif]]></category>
		<category><![CDATA[autis]]></category>
		<category><![CDATA[konsentrasi pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2916</guid>
		<description><![CDATA[

&#8220;Aduh ada apa dengan anakku ini? muter aja kayak gasing ga ada diamnya kecuali tidur. Teriak sana teriak sini..ngoceh ga karuan&#8220;

Cukup banyak orangtua yang mengeluhkan kondisi anaknya yang demikian. Memang sebagai orangtua kita mesti waspada akan adanya gejala autis, hiperaktif atau ADHD pada anak.
Tidak mudah punya anak autis atau hiperaktif. Semua orang tua pasti menginginkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/05/anak-hiperaktif.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2917" title="anak hiperaktif" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/05/anak-hiperaktif.jpg" alt="" width="124" height="129" /></a></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong>&#8220;Aduh ada apa dengan anakku ini? muter aja kayak gasing ga ada diamnya kecuali tidur. Teriak sana teriak sini..ngoceh ga karuan</strong>&#8220;</em></p>
</blockquote>
<p>Cukup banyak orangtua yang mengeluhkan kondisi anaknya yang demikian. Memang sebagai orangtua kita mesti waspada akan adanya gejala autis, hiperaktif atau ADHD pada anak.</p>
<p>Tidak mudah punya anak autis atau hiperaktif. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya lahir dengan selamat dan normal, baik secara fisik, perilaku maupun mental. Namun, bagaimana jadinya jika pada kenyataannya bahwa anak mereka harus mengalami ketidaknormalan. Sebenarnya apa sih penyebab ketidaknormalan ini?<span id="more-2916"></span></p>
<p>Diduga gejala autis dan hiperaktif adalah termasuk gangguan yang disebabkan oleh perkembangan otaknya yang tidak normal. Sehingga membuat pertumbuhan sang anak menjadi tidak biasa. Pada awalnya gangguan seperti ini tidak tampak pada usia batita, baru dapat dipastikan saat menjelang masuk sekolah atau di atas usia 4 atau 5 tahun.</p>
<p>Penelitian beberpa tahun belakangan ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak-anak yang memiliki rentang perhatian pendek yang cenderung mengalami ledakan-ledakan kemarahan.</p>
<p>Dan sebenarnya ada dugaan lebih jauh penyebabnya adalah dikarenakan jenis makanan dan nutrisi yang dikonsumsi anak-anak saat ini. Makanan dan nutrisi yang salah dapat dapat menimbulkan dampak yang besar pada tingkah laku anak dan kemampuannya untuk beradaptasi secara sosial.</p>
<p>Saat ini Ada kecendrungan yang semakin besar bagi anak-anak dirumah maupun disekolah untuk mengkonsumsi makanan olahan dalam jumlah besar. Tidak hanya mengandung berbagai zat tambahan, makanan olahan juga cenderung menyebabkan tubuh bersifat asam. Protein hewani dan gula juga semakin banyak dikonsumsi, sementara sayuran sering dihindari. Protein hewani dan gula dalam proses penguraiannya membutuhkan lebih banyak kalsium dan magnesium (akibatnya kalsium dan magnesium menjadi terkuras). Kekurangan Kalsium dan Magnesium ini menyebabkan terganggunya sistem saraf dan ikut menjadi penyebab kegelisahan dan iritabilitas (sifat lekas marah).</p>
<p>Nah untuk menghidari masalah ini lebih jauh, tentu orangtua harus bisa bersikap bijak dalam memenuhi kebutuhan makanan dan nutrisi untuk seluru anggota keluarga. Bagaimana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/defisiensi-kalsium-pada-anak-menyebabkan-anak-hiperaktiv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGASAH KETERAMPILAN PENGENDALIAN DIRI PADA ANAK</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengasah-keterampilan-pengendalian-diri-pada-anak/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengasah-keterampilan-pengendalian-diri-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 05:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[KARAKTER ANAK]]></category>
		<category><![CDATA[mengasah emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi tangisan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian diri]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian emosi]]></category>
		<category><![CDATA[self leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2778</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa ya anak sulungku yang sudah 10 tahun tapi masih sering menangis? lagi marah..menangis..: kalau protes juga nangis, lagi kesal juga nangis.. &#8221; begitu pertanyaan seorang ibu, teman yang ku kenal lewat pondok ibu.
Setiap anak itu berbeda. ada tipe anak yang mudah, anak yang sedang, dan tipe anak yang sulit. Sehingga cara menangani setiap anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-menangis.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2780" title="anak menangis" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-menangis.jpg" alt="" width="74" height="134" /></a>Mengapa ya anak sulungku yang sudah 10 tahun tapi masih sering menangis? lagi marah..menangis..: kalau protes juga nangis, lagi kesal juga nangis.. &#8221; begitu pertanyaan seorang ibu, teman yang ku kenal lewat pondok ibu.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap anak itu berbeda. ada tipe anak yang mudah, anak yang sedang, dan tipe anak yang sulit. Sehingga cara menangani setiap anak juga berbeda. ada yang perlu ditangani dengan mudah dan sederhana sudah mampu memahami apa yang di ajarkan / diarahkan. Tapi ternyata tidak begitu keadaannya dengan anak yang bertipe sulit.  Lalu kapan saat mengajarkan anak menendalikan dirinya?<span id="more-2778"></span><br />
Anak mampu menguasai diri baru dapat dilakukan ketika seorang anak mampu mengenal emosinya. Memberi berbagai gambar ekspresi wajah dapat dijadikan media perkenalan anak tentang macam-macam emosi, seperti senang, marah, sedih atau takut. Kemudian anak ajak untuk terbiasa mengungkapakan emosi yang ia rasakan dengan memberi nama pada emosi yang tampil di dirinya, “Aku sedang sedih” atau “aku marah”. Pembiasaan ini melatih seorang anak menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.</p>
<p style="text-align: left;">Pada beberapa anak yang belum dapat melabelkan emosinya, biasanya mereka akan melakukan hal yang sama, seperti menangis pada situasi yang berbeda. Ketika sedih ia menangis, pada saat marah ia pun menangis, pada saat orang bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, ia hanya menangis tanpa tahu bagaiman cara mengkomunikasikan emosi yang ia rasakan.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi anak-anak yang sudah mengenal dan mampu mengungkapkan apa yang ia rasakan, masalah yang sedang ia hadapi akan dapat terselesaikan dengan lebih cepat dan tuntas. Ia akan secara spontan mengatakan ; ” <em>Aku marah, karena teman-teman menggangguku, aku tidak suka diganggu</em>”. Orang lain yang mendengarnya akan lebih dapat meresponnya dengan baik dan tepat, tanpa harus menduga-duga sebelumnya.</p>
<p>Selanjutnya anak–anak di ajari bagaimana cara mengungkapkan emosi mereka dengan baik dan benar. Cukup mengekspresikan kemarahan mereka dengan wajah marah disertai kata aku marah, tanpa teriakan karena akan membuat sakit tenggorokannya atau telinga orang lain. Marah tanpa disertai pukulan atau agresi fisik terhadap orang yang membuatnya marah.</p>
<p>Pada saat ia sedih, anak boleh mengungkapkan kesedihannya dengan menangis, tak terkecuali anak laki-laki. Namun tidak perlu histeris atau tantrum, karena sekali lagi akan merugikan dirinya sendri maupun orang lain. Atau berlama-lama dalam menangis, yang menyebabkan sakit di anggota tubuh lainnya. Harapannya adalah, setelah mereka mampu mengekspresikan emosinya dengan baik, mereka mampu mencari jalan keluar atas permasalahannya secara mandiri. Jika hal tersebut di atas telah dapat dilakukan oleh seorang anak, berarti ia telah mampu mengontrol dirinya dengan baik.</p>
<p>Lalu bagaimana mengajarkan anak yang sudah 10 tahun menguasai dirinya dalam mengekpresikan emosinya sesuai dengan emosi yang wajar tanpa menangis?</p>
<p>Disamping melakukan upaya-upaya diatas, Kesabaran, pengertian, penghargaannya dan support terus menerus harus dilakukan. Setiap kali dia menangis, tunjukkan empati yang tulus kepadanya akan perasaannya sebelum bertanya kepadanya mengenai apa masalahnya dan apa yang dirasakan. sampai dia merasa nyaman dan tenang untuk mengutarakan perasaannya. apakah dia sedang kesal, marah, sedih,dll. Lalu ajarkan kepadanya jika dia sedang marah, maka dia bisa mengatakan kepada orang yang dipercayanya jika dia sedang marah, tanpa menyimpan kemarahannya yang kemudian akan meledak dengan tangisan. begitu juga jika sedang sedih atau kesal. Biasanya dengan mengutarakan apa yang dirasakan itu sudah sangat membantu mengurangi ganjalan dihatinya tanpa harus meledak dengan tangisan.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun kesabaran akan memberikan hasil yang lebih baik. Bagi ibu atau orangtua memang tidak mudah untuk sabar dalam menghadapi berbagai tingkah anak yang sulit diatasi apalagi bagi anak yang menuntut dan harus diperlakukan dengan ekstra sabar dan lembut. Ketidaksabaran atau ledakan emosi kita justru akan berbuntut kerugian bagi perkembangan jiwa anak yang pada akhirnya kita (orangtua) juga yang akan merasakan akibatnya.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika kita dianugrahkan anak yang sulit, kita harus selau berpositif thingking, bahwa kita mampu mengatasinya dan mampu menerima amanah ini dengan baik. karena Allah tidak akan memberi ujian lebih dari kemampuan kita. Yakinlah&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">Barangkali ada dari pembaca yang membagi pengalamannya disini dan memberi saran kepada kita semua untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik dalam mengasah ketrampilan pengendalian diri anak?</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengasah-keterampilan-pengendalian-diri-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FAKTOR PEMBENTUK KEMANDIRIAN ANAK ?</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/faktor-pembentuk-kemandirian-anak/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/faktor-pembentuk-kemandirian-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 05:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[anak percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[KARAKTER ANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2773</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ayo sayang kamu bisa kok&#8230;Ummi tahu kamu bisa melakukannya&#8221; aku berusaha selalu memberi support anak-anak bisa melakukan hal-hal sederhana yang mestinya bisa mereka lakukan sendiri. Tapi adakalanya mereka mau, adakalnya juga tidak.  Bahkan berbuntut anak jadi rewel dan ngambek. waw&#8230; memang menghadapi anak-anak harus super sabar. Di paksa sedikit aja sudah membuat suasana berubah jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-mandiri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2774" title="anak mandiri" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-mandiri.jpg" alt="" width="126" height="84" /></a>&#8220;Ayo sayang kamu bisa kok&#8230;Ummi tahu kamu bisa melakukannya&#8221; aku berusaha selalu memberi support anak-anak bisa melakukan hal-hal sederhana yang mestinya bisa mereka lakukan sendiri. Tapi adakalanya mereka mau, adakalnya juga tidak.  Bahkan berbuntut anak jadi rewel dan ngambek. waw&#8230; memang menghadapi anak-anak harus super sabar. Di paksa sedikit aja sudah membuat suasana berubah jadi kisruh.</p>
<p style="text-align: left;">Betapa senangnya memiliki anak mandiri dan memiliki kepercayaan diri. Sebenarnya apa sih yang mempengaruhi kemandirian dan kepercayaan diri anak ?<span id="more-2773"></span><br />
Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba, tetapi perlu diajarkan kepada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri.Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Sedang kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Ketidakmandirian fisik bisa berakibat pada ketidakmampuan psikologis. Anak yang selalu dibantu akan tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, ia akan mengharapkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya dan memecahkan masalahnya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Nampaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :</strong></p>
<ol>
<li>Faktor bawaan. Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain.</li>
<li>Pola asuh. Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.</li>
<li>Kondisi fisik anak. Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih &#8220;istimewa&#8221; ketimbang saudara-saudaranya, sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.</li>
<li> Urutan Kelahiran. Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/faktor-pembentuk-kemandirian-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERMAIN TUMBUHKAN POTENSI ANAK</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/permainan-anak-parenting/bermain-tumbuhkan-potensi-anak-2/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/permainan-anak-parenting/bermain-tumbuhkan-potensi-anak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 19:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permainan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar dengan bermain]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[melatih perkembangan otak dan motorik anak]]></category>
		<category><![CDATA[mengembangkan kreativitas anak]]></category>
		<category><![CDATA[permainan edukatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2743</guid>
		<description><![CDATA[Mengembangkan potensi anak bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Permainan adalah salah satunya, yang justru kerap disepelekan orang tua. Padahal bermain selain memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan juga dapat mengembangkan kreativitas anak akan nilai, sikap, toleransi, serta pemahaman.
Tiga tahun pertama merupakan periode emas perkembangan otak anak. Pada masa itu, ia membutuhkan banyak stimulasi. Semakin banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/balita-bermain.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2744" title="balita bermain" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/balita-bermain.jpg" alt="" width="117" height="116" /></a>Mengembangkan potensi anak bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Permainan adalah salah satunya, yang justru kerap disepelekan orang tua. Padahal bermain selain memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan juga dapat mengembangkan kreativitas anak akan nilai, sikap, toleransi, serta pemahaman.</p>
<p>Tiga tahun pertama merupakan periode emas perkembangan otak anak. Pada masa itu, ia membutuhkan banyak stimulasi. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, maka hubungan koneksi antar saraf akan semakin banyak. Artinya, anak akan semakin cerdas. Salah satu bentuk stimulasinya adalah mainan.<span id="more-2743"></span></p>
<p>Bermain merupakan cara untuk mengeskpresikan perasaan dan emosi yang lebih cepat dibandingkan menyampaikan ekspresi secara verbal.</p>
<p><strong>Pentingnya Bermain</strong><br />
Fungsi bermain bagi anak adalah inti dari proses pembelajaran. Melalui bermain anak bisa membangun pemahaman dan pengetahuan. Dengan kegiatan bermain yang positif, anak dapat melatih perkembangan otak dan motorik seperti melatih menggunakan otot tubuhnya dan menstimulasi penginderaannya.</p>
<p>Bermain menjadikan anak mampu menjelajahi dunia sekitarnya, mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali diri sendiri. Sehingga kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialiasasi.</p>
<p>Setiap anak juga dapat mengembangkan ketrampilan emosinya, rasa percaya diri pada orang lain, kemandirian, dan keberanian untuk berinisiatif. Jadi kegiatan bermain merupakan sarana melatih ketrampilan yang dibutuhkan anak untuk menjadi individual yang kompeten yang membuat anak menyadari kemampuan dan kelebihannya.</p>
<p><strong>5 Unsur Permainan</strong><br />
Belajar yang menyenangkan bagi anak harus diikuti dengan unsur-unsur permainan. menurut Hughes, seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and Development harus ada 5 unsur dalam kegiatan yang disebut bermain.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku mendapatkan kepuasan karena melakukannya (tanpa target), bukan untuk misalnya mendapatkan penghargaan dan uang.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> permainan dipilih secara bebas. Anak bebas memilih permainan apa yang hendak dimainkannya. Jadi, permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> haruslah menyenangkan anak yang bersangkutan dan dapat dinikmatinya.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> adanya unsur imajinasi atau khayalan dalam kegiatan bermain.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> dilakukan secara aktif dan sadar. Anak harus terlibat secara aktif dalam permainan yang dimainkannya.</p>
<p><strong>Ciri-ciri Mainan Edukatif</strong><br />
1. Dibuat untuk merangsang kemampuan dasar pada balita<br />
2. Memiliki banyak fungsi. Artinya, ada beberapa variasi mainan di dalam satu mainan sehingga stimulasi yang diperoleh anak pun beragam<br />
3. Mendorong kemampuan pemecahan masalah. Contohnya mainan bongkar pasang atau puzzle<br />
4. Melatih ketelitian dan ketekunan anak. Tak sekadar menikmati, tetapi si kecil juga dituntut ketelitiannya saat memainkannya<br />
5. Melatih konsep dasar. Artinya, si anak bisa mengenal dan mengembangkan kemampuan dasar seperti bentuk, warna, tekstur, besaran. Selain itu, mainan edukatif mampu melatih kerja saraf motorik halus<br />
6. Merangsang kreativitas anak. Anak-anak semakin kreatif melalui variasi mainan yang dilakukan</p>
<p>Dengan bermain, anak-anak akan mengalami konsep untuk hidup secara langsung seperti bagaimana rasanya menang atau kalah. Maka, konsep tersebut akan lebih meresap dalam diri mereka secara lebih dalam, daripada bila konsep tersebut hanya disampaikan secara lisan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/permainan-anak-parenting/bermain-tumbuhkan-potensi-anak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AGAR ANAK CINTA BUKU</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/agar-anak-cinta-buku/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/agar-anak-cinta-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 08:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2696</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan membaca harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Sebab buku tak hanya fondasi dasar utama bagi perkembangan mental dan spritual seorang anak, tapi juga sumber pengetahuan serta sarana pembina kematangan berpikirnya. Melalui buku, sianak akan belajar mengenal segala sesuatu di alam sekitarnya sebagai apresiasi terhadap ciptaan Allah. selain itu juga buku merupakan salah satu sarana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/membaca-buku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2725" title="membaca buku" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/membaca-buku.jpg" alt="" width="129" height="119" /></a>Kebiasaan membaca harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Sebab buku tak hanya fondasi dasar utama bagi perkembangan mental dan spritual seorang anak, tapi juga sumber pengetahuan serta sarana pembina kematangan berpikirnya. Melalui buku, sianak akan belajar mengenal segala sesuatu di alam sekitarnya sebagai apresiasi terhadap ciptaan Allah. selain itu juga buku merupakan salah satu sarana komunikasi, yang membantu meningkatkan pengetahuannya. sehingga ini sangat membangtu pembentukan keperibadaian dan pola pikir anak.<span id="more-2696"></span></p>
<p>Nah, lalu bagaimana agar anak cinta ? berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua untuk bisa menanmkan kecintaan anak terhadap membaca buku :</p>
<ul>
<li><strong><em>Memberikan Teladan</em></strong></li>
</ul>
<p>Orangtua tentulah menjadi orang yang pertama dan terdepan dalam mengajarkan anak cinta membaca buku. Orangtua yang tidak gemar membaca  akan lebih sulit menumbuhkan minat baca yang tinggi pada anak-anaknya. Dengan memberikan teladan ini merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan minat anak untuk membaca buku meskipun tetap membutuhkan upaya-upaya lain untuk menumbuhkan minatnya.</p>
<ul>
<li><strong><em>Mendongeng sebelum tidur.</em></strong></li>
</ul>
<p>Orangtua memiliki peranan yang sangat besar dalam menanamkan rasa cinta buku kepada anak-anaknya. Proses ini bisa dimulai sejak usia dini. MEndongen sebelum tidur perlu dilakukan karena rutinitas ini tidak hanya mengandung aspek pendidikan, juga menjadi saat-saat yang berharga untuk menjalin hubungan emosional antara orangtua dan anak.</p>
<ul>
<li><strong><em>Sering mengajak anak berkunjung ke toko buku, pameran buku, atau bursa buku murah</em></strong></li>
</ul>
<p>orangtua dapat membuat jadwal rutin mingguan/bulanan untuk mengunjungi toko buku dan atau membeli buku-buku (sesuai dengan kebutuhan dan anggaran tentunya) yang sesuai dengan perkembangan anak sehingga semakin menambah pengetahuan anak sekaligus semakin menanamkan kecintaan anak untuk membaca buku. jika tidak orangtua bisa mengajarkan anak menabung untuk mendapatkan buku yang mereka inginkan</p>
<ul>
<li><strong><em>Sering mengajak anak untuk mengunjungi perpustakaan</em></strong></li>
</ul>
<p>di perpustakaan ini anak bisa melihat aneka buku yang sangat banyak jumlahnya dan jenisnya. Hal ini tentu akan memancing mereka untuk berlama-lama dan mengeksplorasi buku demi buku. apalagi saat ini buku-buku sudah didesain demikian menarik, sehingga semakin menambah kecintaan anak terhadap buku. Disamping itu dengan meminjam buku dari perpustakaan anak juga belajar menjaga dan merawat buku yang bukan miliknya, mendisiplinkan diri untuk membaca buku selama waktu peminjaman, dan mengembalikannya tepat waktu.</p>
<ul>
<li><strong><em>Membuat perpustakaan keluarga dirumah</em></strong></li>
</ul>
<p>Menyediakan perpustakan keluarga dirumah menjadi sebuah keharusan untuk mengakrabkan anak dengan buku. Dengan demikian anak juga belajar merawat buku-buku miliknya, menatanya kembali jika telah digunakan.  Adanya perpustakaan keluarga dirumah ini juga diiharapkan bisa membantu anak mengalihkan perhatiannya dari media TV yang amat sangat banyak memberikan pengaruh negatih bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, apalagi dizaman sekarang ini. tentu saja ini harus dengan kerjasama semua anggota keluarga. jangan sampai anak diajarkan untuk cinta membaca buku tapi orangtuanya asyik menonton telenovela atau sinema-sinema.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/agar-anak-cinta-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGAJARI ANAK BERBAGI</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengajari-anak-berbagi/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengajari-anak-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 00:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Anak suka berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[mengajari anak berbagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2633</guid>
		<description><![CDATA[Kepedulian, empati, juga sikap mengalah adalah hal yang seringkali belum dimiliki oleh anak-anak. Mereka belum memahami apa itu &#8220;berbagi&#8221; dan belum mengerti tentang arti kepemilikan. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka inginkan, itulah milik mereka. Masih benar-benar egois. Dan itu wajar. Untuk itulah orangtua dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai mendasar kepada mereka.
Anda mungkin pernah melihat si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/friends-94.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2634" title="friends-94" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/03/friends-94-150x150.jpg" alt="" width="138" height="138" /></a>Kepedulian, empati, juga sikap mengalah adalah hal yang seringkali belum dimiliki oleh anak-anak. Mereka belum memahami apa itu &#8220;berbagi&#8221; dan belum mengerti tentang arti kepemilikan. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka inginkan, itulah milik mereka. Masih benar-benar egois. Dan itu wajar. Untuk itulah orangtua dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai mendasar kepada mereka.</p>
<p>Anda mungkin pernah melihat si kecil berkata &#8220;ini punyaku&#8221; atau &#8220;nggak mau&#8221; saat Anda memintanya untuk membagi mainan atau makanan kepunyaannya kepada kawan atau saudaranya. <span id="more-2633"></span>Bahkan, saking keras kepalanya, mereka sering kali mengiringi penolakan itu dengan lari sambil merebut mainannya, dan benar-benar bersikeras tidak mau berbagi.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus Anda siapkan sebelum mengajarkan &#8220;pelajaran berbagi&#8221; ini kepada si kecil:</p>
<ol>
<li>kesabaran ekstra</li>
<li>mainan atau barang yang dapat digunakan bersama</li>
<li>penguatan positif/optimisme</li>
</ol>
<p>Nah, setelah Anda memiliki ketiga hal pokok tadi, mari kita mulai pelajaran berbagi ini dengan si kecil.</p>
<p><strong>1. Berikan contoh yang baik.</strong> Anda tidak mungkin memintanya untuk berbagi miliknya, jika Anda tidak memberikan contoh langsung kepadanya. Misalnya, Anda sedang makan sesuatu. Tawarkan padanya sebagian makanan yang Anda makan.</p>
<p><strong>2. Hormati hak-hak kepemilikannya. </strong>Saat Anda memintanya untuk meminjamkan sesuatu kepada saudara atau kawannya, jangan paksakan jika ia belum mau. Bujuk ia pelan-pelan, &#8220;Hmm&#8230;Rosulullah itu paling suka berbagi lho&#8230;Siapa yang mau jadi temannya Rosulullah ya&#8230;&#8221;. Nah, jika dia sudah mau berbagi, jangan lupa ucapkan terimakasih atas kepeduliannya.Dan pastikan barang miliknya kembali dalam kondisi utuh (kecuali makanan).</p>
<p><strong>3. Tunjukkan bahwa berbagi adalah hal yang menyenangkan. </strong>Misalnya, dengan mengajaknya bermain bersama-sama kawannya secara bergantian. Lalu, katakan padanya, &#8220;senang ya&#8230;bisa main bersama? Kalau sendirian, pasti nggak seru&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>4. Jangan memaksa jika dia sedang tidak oke.</strong> Kalau moodnya sedang tidak bagus, pemaksaan justru akan menjadi bumerang bagi Anda. Bersabar sajalah, dan tunggu sampai moodnya normal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/mengajari-anak-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BILA SI KECIL TAK MAU MAKAN</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/bila-si-kecil-tak-mau-makan/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/bila-si-kecil-tak-mau-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 3</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[gizi]]></category>
		<category><![CDATA[si kecil tak mau makan]]></category>
		<category><![CDATA[tips agar anak mau makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2586</guid>
		<description><![CDATA[Kepala bisa pusing ketika sang buah hati mulai mogok makan, padahal sudah kita paksa dengan berbagai cara. Kenapa ya? Bisa jadi anak kita tidak mau makan karena ada masalah dengan pencernaannya, atau mungkin juga si kecil bosan dengan menu yang itu-itu saja. Nah,kita sebagai orang tua musti pintar untuk mengetahui kira-kira kenapa ya si kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2587" title="gambar 1" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-1.jpg" alt="" width="129" height="104" /></a>Kepala bisa pusing ketika sang buah hati mulai mogok makan, padahal sudah kita paksa dengan berbagai cara. Kenapa ya? Bisa jadi anak kita tidak mau makan karena ada masalah dengan pencernaannya, atau mungkin juga si kecil bosan dengan menu yang itu-itu saja. Nah,kita sebagai orang tua musti pintar untuk mengetahui kira-kira kenapa ya si kecil tidak mau makan?<span id="more-2586"></span>Makan itu nggak harus nasi lho.  Untuk membuat saat makan menjadi lebih mudah &amp; memaksimalkan kemungkinan anak akan mau makan dapat dilakukan hal berikut ini:</p>
<ul>
<li>Jangan memaksa anak untuk makan jika dia menolak. Memaksa anak      biasanya akan membuat anak semakin menolak untuk makan</li>
<li>Susun jadwal untuk makan besar dan snack, yaitu 3 kali makan      besar dan 2-3 snack yang terbuat dari makanan tinggi kalori.</li>
<li>Ijinkan anak untuk makan sendiri, terutama untuk <em>finger      food.</em></li>
<li>Berikan minuman, misalnya jus, hanya setelah makan      selesai</li>
</ul>
<p>Ahli gizi anak menganjurkan cara agar anak mendapat lebih banyak kalori dengan cara memberikan makanan berkalori tinggi yang tinggi protein dan banyak kandungan nutrisinya.</p>
<p>Hal ini terutama dilakukan untuk anak yang membutuhkan tambahan kalori untuk mengejar ketertinggalan berat badannya:</p>
<ul>
<li>Berikan makanan tinggi kalori</li>
<li>Hindari <em>junk foods</em>, yang mungkin mengandung kalori tapi      biasanya rendah protein</li>
<li>Buat <em>milkshake</em> sebagai salah satu snack tinggi kalori,      bisa memberikan lebih dari 400 kalori. Kalori <em>mikshake</em> lebih tinggi dari      sepiring nasi.</li>
<li>Puding juga dapat memberikan banyak kalori jika ditambahkan      susu</li>
<li>Tambahkan keju sebagai toping untuk roti, sayuran, dll.</li>
<li>Gunakan selai kacang (yang mengadung 100 kalori tiap 1 sendok      makan) sebagai snack dan sebagai toping untuk roti, krakers dan buah. Atau      bisa juga diblender dengan susu, <em>ice cream</em> atau yoghurt</li>
<li>Buat snack buah tinggi kalori dengan menambahkan gula atau      yoghurt pada buah-buahan yang akan dimakannya, buahnya bisa buah segar      atau buah kaleng</li>
<li>Berikan buah tinggi kalori seperti alpukat &amp; mangga. Bisa      dimakan siram yoghurt atau diblender atau dibuat <em>smoothie</em>.</li>
</ul>
<p>Ada sedikit gambaran tentang menu-menu tinggi kalori. Mungkin bisa diberikan dalam porsi sedikit-sedikit tapi sering. Karena anak yang susah makan biasanya bisa disiasati dengan metode sedikit-sedikit tapi sering ini. Ya kitanya mesti sabar sih, nggak boleh menyerah, nggak boleh bosen menawarkan ke anak. Suatu hari nanti pasti ada masanya dia akan mau makan deh… <img src='http://pondokibu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/bila-si-kecil-tak-mau-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skala Perkembangan Kematangan Sosial Untuk Anak Umur 0-6 Tahun</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/skala-perkembangan-kematangan-sosial-untuk-anak-umur-0-6-tahun/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/skala-perkembangan-kematangan-sosial-untuk-anak-umur-0-6-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan & Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[kematangan sosial anak 0 - 6 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[skala perkembangan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2988</guid>
		<description><![CDATA[Sampai mana perkembangan kematangan sosial anak Anda?  Skala anak ini digunakan sebagai acuan apakah anak Anda berkembang normal. Anak umur 5 tahun bisa saja masih berada di perkembangan anak umur 3 tahun dan sebaliknya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan lingkungan di sekitarnya

UMUR 0-1 TAHUN
1. Tidak lagi ngiler
2. Minum dari gelas/cangkir dengan dibantu
3. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai mana perkembangan kematangan sosial anak Anda?  Skala anak ini digunakan sebagai acuan apakah anak Anda berkembang normal. Anak umur 5 tahun bisa saja masih berada di perkembangan anak umur 3 tahun dan sebaliknya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan lingkungan di sekitarnya<br />
<span style="color: #ff0000;"><br />
<strong>UMUR 0-1 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Tidak lagi ngiler<br />
2. Minum dari gelas/cangkir dengan dibantu<br />
3. Berteriak-teriak<br />
4. Minta perhatian orang lain (ingin diajak bicara dsb)<br />
5. Mengamati dengan mata<br />
6. Menggunakan/menirukan suara<br />
7. Mengikuti perintah-perintah sederhana<br />
8. Memegang benda-benda yang berada dalam jangkauan<br />
9. Mencapai benda-benda yang dekat<br />
10. Menyibukkan diri sendiri tanpa dibantu<br />
11. Memegang antara ibu jari dan jari-jari<br />
12. Mengimbangkan kepala<br />
13. Berguling<br />
14. Menarik diri sendiri untuk berdiri<br />
15. Berdiri sendiri</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>UMUR 1-2 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Tidak digendong<br />
2. Membuka kaos kaki<br />
3. Mengunyah makanan<br />
4. Minum dengan gelas/cangkir tanpa bantuan<br />
5. Makan dengan sendok<br />
6. Membedakan bahan-bahan yang dimakan<br />
7. Mengupas makanan/membuka bungkus gula-gula<br />
8. Bermain-main dengan anak lain<br />
9. Mengetahui nama-nama benda yang umum<br />
10. Bercakap-cakap dengan kalimat pendek<br />
11. Mencoret-coret dengan pensil atau kapur<br />
12. Memindah-mindahkan benda<br />
13. Mengatasi halangan-halanga sederhana<br />
14. Mengambil atau mebawa benda-benda yang dikenal<br />
15. Berjalan-jalan dalam kamar tanpa bantuan<br />
16. Berjalan keliling dalam rumah/pekarangan<br />
17. Menaiki anak tangga/trap tanpa ditolong<br />
<span style="color: #ff0000;"><strong><br />
UMUR 2-3 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Minta pergi ke belakang (WC)<br />
2. Mengeringkan tangan<br />
3. Menanggalkan pakaian<br />
4. Memakai baju atau pakaian tanpa bantuan<br />
5. Makan dengan sendok tanpa berceceran<br />
6. Mengambil minuman tanpa dibantu<br />
7. Menceritakan pengalaman<br />
8. Mengatakan sesuatu keinginan<br />
9. Berprakarsa sendiri untuk memulai permainan<br />
10. Menghindari bahaya-bahaya yang sederhana<br />
11. Memotong-motong dengan gunting<br />
12. Dapat mengenal tempat</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>UMUR 3-4 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Minta pergi ke WC<br />
2. Mengancing baju atau pakaian<br />
3. Mencuci tangan tanpa bantuan<br />
4. Minta tambah makan<br />
5. Mengambil alat-alat makan dan minum sendiri tanpa dibantu<br />
6. Memilih permainan atau barang untuk dirinya<br />
7. Menunjukkan suatu aktivitas kepada orang lain<br />
8. Bermain-main bersama pada tingkat taman kanak-kanak<br />
9. Menceritakan pengalaman-pengalaman kecil<br />
10. Membantu pekerjaan rumah tangga<br />
11. Naik turun trap lantai rumah tanpa dibantu<br />
12. Pergi ke lingkungan tetangga tanpa diantar</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>UMUR 4-5 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Pergi tidur sendiri tanpa ditemani orang tuanya<br />
2. Menyisir rambut secara sederhana<br />
3. Menggosok gigi<br />
4. Mencuci muka tanpa dibantu<br />
5. Dapat disuruh membeli sesuatu<br />
6. Bermain-main permainan yang bersifat lomba<br />
7. Menyampaikan pesan sederhana<br />
8. Memakai pensil atau kapur untuk menggambar<br />
9. Naik turun tangga tanpa dibantu</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>UMUR 5-6 TAHUN</strong></span></p>
<p>1. Pergi tidur dengan bantuan<br />
2. Mandi masih dengan bantuan orang lain<br />
3. Melayani diri sendiri dalam hal makan<br />
4. Dapat berbelanja kecil-kecilan<br />
5. Bermain permainan meja sederhana<br />
6. Menulis satu atau lebih huruf sederhana<br />
7. Bermain-main permainan yang beresiko seperti kereta atau geedekan dorong, meloncat panggug, jungki r balik<br />
8. Pergi ke sekolah tanpa diantar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/skala-perkembangan-kematangan-sosial-untuk-anak-umur-0-6-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Tanda Bayi Autistik</title>
		<link>http://pondokibu.com/kesehatan/7-tanda-bayi-autistik/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/kesehatan/7-tanda-bayi-autistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 08:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[ADHD]]></category>
		<category><![CDATA[anak bermasalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak hiperaktif]]></category>
		<category><![CDATA[autis]]></category>
		<category><![CDATA[konsentrasi pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2947</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar gejala autisme sudah terlihat sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Bahkan, beberapa orangtua sudah melihat gejala autis saat bayi mereka berusia 9 bulan. Tanda-tanda autisme berikut sudah bisa dikenali sejak bayi berusia satu tahun ke atas.
1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak lain? (Ya/Tidak)
2. Apakah anak Anda pernah menggunaan telunjuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar gejala autisme sudah terlihat sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Bahkan, beberapa orangtua sudah melihat gejala autis saat bayi mereka berusia 9 bulan. Tanda-tanda autisme berikut sudah bisa dikenali sejak bayi berusia satu tahun ke atas.</p>
<p>1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak lain? (Ya/Tidak)</p>
<p>2. Apakah anak Anda pernah menggunaan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu? (Y/T)</p>
<p>3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari satu atau dua detik? (Y/T)</p>
<p>4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah ia menirunya? (Y/T)</p>
<p>5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil? (Y/T)</p>
<p>6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan/apapun di sisi ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan/benda tersebut? (Y/T)</p>
<p>7. Apakah anak Anda pernah bermain &#8220;sandiwara&#8221; misalnya berpura-pura menyuapi boneka, berbicara di telepon, dan sebagainya? (Y/T)</p>
<p>Seorang anak berpeluang menyandang autis, jika minimal dua dari pertanyaan di atas dijawab Tidak. Konsultasikan hal ini kepada dokter ahli untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.</p>
<p>Sumber:  Kompas.com -  The Modified Checklist for Autism in Toddlers</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/kesehatan/7-tanda-bayi-autistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAAT SI KECIL SUSAH MAKAN</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/saat-si-kecil-susah-makan/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/saat-si-kecil-susah-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 05:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi sulit makan]]></category>
		<category><![CDATA[susah makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2180</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal yang sering kali membuat seorang ibu kewalahan adalah manakala si kecil tidak mau makan. Ada saja alasan yang ia buat untuk menghindar jika disuruh makan. Katanya lauknya tidak enak, diberi lauk enak, eh bilang sudah kenyang. Repot juga kalau setiap hari begini. Gimana, dong?
Perhatikan apa yang masuk ke perutnya. Pada bayi, mereka biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2179" title="anak susah makan 2" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/11/anak-susah-makan-2.jpg" alt="anak susah makan 2" width="116" height="87" />Satu hal yang sering kali membuat seorang ibu kewalahan adalah manakala si kecil tidak mau makan. Ada saja alasan yang ia buat untuk menghindar jika disuruh makan. Katanya lauknya tidak enak, diberi lauk enak, eh bilang sudah kenyang. Repot juga kalau setiap hari begini. Gimana, dong?</p>
<p><strong>Perhatikan apa yang masuk ke perutnya.</strong> Pada bayi, mereka biasa menolak makan makanan tambahan selain ASI karena<span id="more-2180"></span> mereka sudah senang dengan ASI. Karena kebanyakan minum ASI, makanya mereka merasa enggan makan makanan lain. Atau, biasanya terjadi kasus anak-anak tidak mau minum ASI lagi karena mereka sudah keenakan dengan susu botol. Umumnya menimpa ibu yang bekerja di luar rumah. Sedangkan pada anak yang sudah lebih besar, biasanya mereka menolak makan karena kebanyakan minum dan jajan yang ringan-ringan. Ini patut diwaspadai dan segera ditangani.</p>
<p><strong>Kurangi camilan-camilan dan jajanan.</strong> Kalau saja jajanannya bergizi seperti bubur kacang hijau, kolak pisang, tentu ibu tak perlu kuatir. Tapi, jika jajanan yang masuk ke perut anak Anda adalah jajanan yang banyak pengawet dan MSG-nya? Anda harus waspadai ini. Bisa jadi, inilah penyebab anak Anda tidak mau makan. Jika si kecil sudah bersekolah, siapkan snack-nya sendiri. Jika perlu, jangan beri uang jajan. Anda harus cerdas untuk menentukan menu apa yang paling disukainya.</p>
<p><strong>Buat suasana makan menyenangkan.</strong> Kadang anak mengalami trauma kecil, saat ia ingin makan. Misalnya, Anda terlalu memaksanya, padahal saat itu ia sedang tidak enak badan dan tidak enak makan. Sedikit-sedikit makan tidak mengapa, asalkan ia mau makan dan  kontinyu.</p>
<p><strong>Ajak ke tempat yang ia suka.</strong> Sedikit repot, tidak mengapa. Anda bisa mengajak si kecil makan sambil duduk di atas sepeda atau ayunan, atau bisa sambil berjalan-jalan mengelilingi komplek rumah Anda. Jika ada taman yang bagus, itu lebih baik. Anak-anak biasanya mau makan jika melihat anak lain makan.</p>
<p><strong>Beri pengertian dengan sabar. </strong>Sering kali kita lupa, bahwa ada type anak yang tidak bi sa makan sesuatu. Nah, selama anak Anda masih dalam batas normal, dalam artian keinginannya masih bisa kita penuhi, dan ia makan banyak,tidak mengapa. Turuti dulu saja,sambil perlahan-lahan Anda berikan pengertian. Bahwa tidak semua orang bisa makan enak, jadi ia harus bersyukur dan mau menghabiskan makannya agar tidak mubadzir.</p>
<p><strong>Madu, suplemen tambahan yang baik.</strong> Madu memiliki rasa yang manis. Dan kandungan vitamin dan mineral di dalamnya sangat tinggi. Bagus untuk pertumbuhan anak. Madu juga bisa dijadikan obat penambah nafsu makan. Awalnya,anak-anak mungkin tidak suka. Tapi, jangan berhenti. Anda bisa meletakkan madu di sebuah piring kecil di samping makanan tambahannya. Lelet-leletkan di mulutnya dengan jari Anda. Agar dapat masuk ke mulut. Setelah minum ASI juga tidak mengapa. Atau jika dia sudah bisa makan roti atau biscuit,madu bisa menjadi pengganti selai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/saat-si-kecil-susah-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAHAPAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/tahapan-perkembangan-motorik-anak/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/tahapan-perkembangan-motorik-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[motorik halus]]></category>
		<category><![CDATA[motorik kasar]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan motorik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=2166</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih, yang dimaksud dengan perkembangan motorik itu? Apa pula bedanya motorik kasar dengan motorik halus?
Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengn kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2167" title="sepeda roda 3" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/11/sepeda-roda-3.jpg" alt="sepeda roda 3" width="128" height="95" />Apa sih, yang dimaksud dengan perkembangan motorik itu? Apa pula bedanya motorik kasar dengan motorik halus?</p>
<p>Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengn kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.<span id="more-2166"></span></p>
<p>Dan patut diingat, perkembangan setiap anak tidak bisa ama, tergantung proses kematangan masing-masing anak.</p>
<p>Berikut tahapan-tahapan perkembangannya:</p>
<p><strong>Usia 1-2 tahun</strong></p>
<table border="2">
<tbody>
<tr>
<th>Motorik Kasar</th>
<th>Motorik Halus</th>
</tr>
<tr>
<td>•	merangkak<br />
•	berdiri dan berjalan beberapa langkah<br />
•	berjalan cepat<br />
•	cepat-cepat duduk agar tidak jatuh<br />
•	merangkak di tangga<br />
•	berdiri di kursi tanpa pegangan<br />
•	menarik dan mendorong benda-benda berat<br />
•	melempar bola</td>
<td>•	mengambil benda kecil dengan ibu jari atau telunjuk<br />
•	membuka 2-3 halaman buku secara bersamaan<br />
•	menyusun menara dari balok<br />
•	memindahkan air dari gelas ke gelas lain<br />
•	belajar memakai kaus kaki sendiri<br />
•	menyalakan TV dan bermain remote<br />
•	belajar mengupas pisang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Usia 2-3 tahun</strong><br />
<!-- table,th,td { border:2px solid black; } --></p>
<table border="2">
<tbody>
<tr>
<th>Motorik Kasar</th>
<th>Motorik Halus</th>
</tr>
<tr>
<td>•	melompat-lompat<br />
•	berjalan mundur dan jinjit<br />
•	menendang bola<br />
•	memanjat meja atau tempat tidur<br />
•	naik tangga dan lompat di anak tangga terakhir<br />
•	berdiri dengan 1 kaki</td>
<td>•	mencoret-coret dengan 1 tangan<br />
•	menggambar garis tak beraturan<br />
•	memegang pensil<br />
•	belajar menggunting<br />
•	mengancingkan baju<br />
•	memakai baju sendiri</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Usia 3-4 tahun</strong><!-- table,th,td { border:2px solid black; } --></p>
<table border="2">
<tbody>
<tr>
<th>Motorik Kasar</th>
<th>Motorik Halus</th>
</tr>
<tr>
<td>•	melompat dengan 1 kaki<br />
•	berjalan menyusuri papan<br />
•	menangkap bola besar<br />
•	mengendarai sepeda<br />
•	berdiri dengan 1 kaki</td>
<td>•	menggambar manusia<br />
•	mencuci tangan sendiri<br />
•	membentuk benda dari plastisin<br />
•	membuat garis lurus dan lingkaran cukup rapi</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Usia 4-5 tahun</strong><!-- table,th,td { border:2px solid black; } --></p>
<table border="2">
<tbody>
<tr>
<th>Motorik Kasar</th>
<th>Motorik Halus</th>
</tr>
<tr>
<td>•	menuruni tangga dengan cepat<br />
•	seimbang saat berjalan mundur<br />
•	melompati rintangan<br />
•	melempar dan menangkap bola<br />
•	melambungkan bola</td>
<td>•	menggunting dengan cukup baik<br />
•	melipat amplop<br />
•	membawa gelas tanpa menumpahkan isinya<br />
•	memasikkan benang ke lubang besar</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Dari berbagai sumber. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/tahapan-perkembangan-motorik-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAPAN MEMULAI TOILET TRAINING ?</title>
		<link>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/kapan-memulai-toilet-training/</link>
		<comments>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/kapan-memulai-toilet-training/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 09:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang Anak]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pondokibu.com/?p=1771</guid>
		<description><![CDATA[Para ibu biasanya bingung kapan dan bagaimana harus memulai toilet training untuk balitanya. Sebetulnya, cukup mudah untuk mengetahui kapan balita Anda sudah dapat dikenalkan dengan toilet training. Misalnya, balita Anda mulai menunjukkan minatnya untuk melepas popoknya, atau ia bangun tidur siang dalam keadaan kering/tidak mengompol, atau ia tahu kapan waktunya ia harus pup atau pis.
Langkah-langkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1772" title="toilet training" src="http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2009/10/toilet-training.jpg" alt="toilet training" width="92" height="111" />Para ibu biasanya bingung kapan dan bagaimana harus memulai toilet training untuk balitanya. Sebetulnya, cukup mudah untuk mengetahui kapan balita Anda sudah dapat dikenalkan dengan toilet training. Misalnya, balita Anda mulai menunjukkan minatnya untuk melepas popoknya, atau ia bangun tidur siang dalam keadaan kering/tidak mengompol, atau ia tahu kapan waktunya ia harus pup atau pis.<span id="more-1771"></span></p>
<p>Langkah-langkah apa yang bisa Anda siapkan?</p>
<p>Siapkan pispot atau kursi duduk kecil untuk mempermudah si kecil pis atau pup di kamar mandi. Anak-anak pada mulanya sering merasa takut untuk jongkok di kloset. Maka, Anda bisa menyiapkan pispot untuknya.</p>
<p>Usahakan agar pintu toilet mudah dibuka. Balita cenderung takut jika pintu kamar mandi tertutup. Mereka lebih nyaman saat pintu terbuka. Nah, usahakan pintu kamar mandi Anda mudah dibuka olehnya.</p>
<p>Buat suasana menjadi nyaman. Agar anak-anak merasa nyaman saat melakukan toilet training ini, Anda pun harus  menciptakan kondisi yang kondusif baginya. Misalnya, Anda bisa saja mengajaknya mengobrol atau membacakan sebuah buku cerita yang menarik.</p>
<p>Sediakan mini wastafel atau ember di dekatnya agar ia mudah meraih gayung untuk mengambil air atau mencuci tangan.</p>
<p>Pakaikan baju yang mempermudahkan mereka untuk membukanya terutama di tempat dimana tidak ada Anda untuk membantunya melepas celana atau baju. Misal, dengan tidak memakaikan baju yang ketat atau sabuk pinggang yang terlalu kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pondokibu.com/parenting/tumbuh-kembang-anak/kapan-memulai-toilet-training/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
