Belajar berhitung memang tidak harus selalu di dalam ruangan atau kelas. Dimana saja, kita bisa mengajarkan anak-anak usia prasekolah kita untuk berhitung dan mengenal angka.
Salah satu metode yang sering kita gunakan untuk mengajarkan anak berhitung adalah dengan drama atau bermain peran.
Permainan ini tidak membutuhkan alat. Anda hanya butuh untuk duduk bersila bersama dengan anak-anak atau murid-murid Anda secara melingkar. Minta mereka untuk memejamkan mata dan membayangkan seperti apa yang Anda katakan. Mereka boleh saja menjawab pertanyaan Anda, namun dengan syarat mereka tidak boleh membuka mata sampai Anda memintanya.
Anda bisa mengambil sebuah topik. Misalkan, tentang berjalan-jalan ke hutan.
Ambil sebuah kardus bekas yang cukup besar, minimal ukuran 15x15x15, lalu beri lubang di tengahnya yang cukup untuk dimasuki oleh tangan si kecil. Sediakan beberapa barang yang dapat masuk ke dalam kardus tersebut. Pensil, pulpen, penghapus, mobil mainan mini, kunci, dsb.
Perkenalkan setiap kata pada si kecil, minta ia menirukan Anda. Misal, “ini pensil”. Setelah itu, masukkan semua benda tadi ke dalam kotak.
“Tuut…tuuut…tuuut…kereta api mau lewaaatt…awass!!”
Anak-anak di kelas saya paling senang bermain kereta-keretaan dengan menyusun kursi-kursi mereka menjadi gerbong. Mereka berimajinasi seolah-olah mereka tengah berada di sebuah kereta api yang sedang berjalan dan berkeliling melihat pemandangan. Hmm…ternyata permainan ini bagus untuk melatih daya imajinasi mereka.
Anak-anak usia 3-4 tahun sedang mengalami masa-masa yang penuh dengan gerak. Mereka senang berlompatan dan berlarian kesana kemari untuk mengekspresikan diri. Mereka juga senang memanjat, dan mencoba banyak hal yang baru. Karena keingintahuan mereka yang begitu besar, mereka menjadi sering jatuh karena belum memiliki keseimbangan tubuh yang baik.
Hmm…senangnya berlibur! Setelah sekian lama berkutat berhari-hari dengan pekerjaan yang menumpuk, momen inilah yang paling kita tunggu. Bersama anak-anak, kita pergi berlibur sejenak melepas penat. Apalagi bertepatan dengan lebaran. Mudik…mudik…! Tapi, kadang kala liburan panjang, bikin bosan juga. Terutama kalau anak-anak sudah mulai merasa jenuh dan bertanya-tanya: “Kapan sih, aku sekolah lagi, Ma?”
Si kecil suka sekali mencoret-coret dinding. Mulai dari ruang tamu hingga ruang belakang penuh dengan coretannya. Entah itu gambar yang berbentuk, atau bahkan yang tak bisa ditafsirkan gambar apa yang dibuatnya. Ada juga jejak-jejak kaki dan tangan karena ia senang bermain tinta. Anda pusing karena dinding menjadi kotor. Apa solusinya?
Di rumah, kardus-kardus bekas menumpuk. Mulai dari kardus susu, kardus sabun, kardus pasta gigi, dsb. Dibuang? Jangan dulu. Kita bisa memanfaatkannya untuk kreativitas si kecil.
Kita tahu, ada banyak Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah ke muka bumi ini untuk menyampaikan ajaran tauhid. Ketika kita sekolah dulu, guru-guru kita mengajarkan bahwa ada 25 nama Nabi dan Rosul yang kita kenal. Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Anda tentu menghafalnya. Bagaimana dengan anak-anak Anda?
Anda tentu pernah melihat, bahkan mungkin memiliki mainan gantung yang biasa diletakkan di kamar anak-anak Anda. Apakah mereka menyenanginya? Tentu. Hampir semua anak-anak, terutama balita menyukai hiasan gantung di langit-langit kamar atau di langit-langit tempat tidur mereka.
Anak-anak saya biasanya sering mengeluh jika saya memberikan tugas menulis. Capek-lah, malas-lah, pensil patahlah, atau bahkan pensil hilang…Saya frustrasi juga jika setiap hari mendengar keluhan-keluhan yang sama.
Saya mencoba mencari apa saja penyebab anak merasa tidak enjoy dalam menulis. Ternyata, rata-rata pensil yang digunakan anak mudah patah, sehingga mereka menjadi malas menulis. Beberapa anak juga merasa tidak nyaman saat memegang batang pensil.