Cara Menghadapi Anak Yang Melawan Dan Keras Kepala

Terbit 06 June 2012 Komentar 13 Komentar Kategori: Parenting, Pendidikan & Psikologi

menghadapi anak keras kepalaAda masa ketika anak-anak berusia 2-5 tahun menjadi suka melawan dan keras kepala. Ini adalah fase yang sangat alami pada masa pertumbuhan kejiwaan anak, karena ini adalah fase dimana anak-anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa terutama orangtuanya.

Sebab-sebab anak suka melawan dan keras kepala:

  1. Meniru perbuatan orangtuanya yang -maaf- juga keras kepala, atau anak sering menyaksikan orangtuanya bertengkar.
  2. Orangtua terlalu memanjakan, selalu memberikan apa yang diinginkannya. Ketika suatu saat keinginan tersebut tidak dipenuhi, tentu anak akan memprotes dan melawan.
  3. Tidak adanya ikatan kasih sayang dan pengertian antara orangtua dan anak.
  4. Orangtua terlalu membiasakannya taat pada sesuatu secara fanatik.
  5. Anak-anak terlalu sering disuruh mengalah, tanpa memberi pengertian yang dapat membuatnya mengerti.

Beberapa orang tua mengeluh tentang sifat anaknya yang keras kepala. Mereka bingung bagaimana cara menasehati mereka. Bila dilarang untuk melakukan sesuatu mereka akan mengamuk, atau bahkan melawan.

Cara menghadapi anak-anak yang suka melawan dan keras kepala:

  • Lihat diri kita

Kadang kita tidak menyadari bila buah hati kita memiliki hati yang keras, salah satu sebabnya adalah diri kita sendiri. Bila kita memiliki hati yang keras, sukar dinasehati, tentu saja secara tidak langsung itu juga akan menular pada diri buah hati kita. Bila setiap hari buah hati kita melihat hal ini, tentu lama kelamaan buah hati kita akan menirunya. Bila kita saat ini terlalu sombong, marilah kita merendahkan hati kita. Bila kita kurang mau mendengarkan orang lain, maka marilah kita mulai saat ini belajar mendengarkan. Supaya kita pun juga akan semakin mengerti segala kebutuhan buah hati kita, dengan mau dan menyediakan waktu untuk buah hati kita.

  • Hendaklah lebih fleksibel, lebih memberikan kasih sayang dan pengertian kepada anak.

Kebutuhan seorang anak sebenarnya tidak banyak. Mereka menginginkan perhatian dan kasih sayang kita sebagai orang tua. Kasih sayang dan perhatian yang cukup akan meminimalisir kebutuhan anak-anak pada “materi”. Jadi kalau anak mulai minta ini itu, mudah merengek, dan cepat bosan terhadap apa yang dia beli, itu sebenarnya sebagai ungkapan atau pengaruh dari adanya bagian hati mereka yang kosong. Dan sebenarnya bagian hati yang kosong tersebut hanya bisa diisi dengan kasih sayang dan kehangatan yang ada di dalam sebuah keluarga.

  • Salurkan Hobinya

Setiap anak tentu memiliki bakat dan minat yang berbeda. Sebagai orang tua kita harus cermat mengerti hal ini. Misalnya bila buah hati kita suka mencoret-coret di atas kertas, mulailah mencoba memasukkan buah hati kita pada sanggar-sanggar melukis. Anak-anak yang normal, biasanya memiliki “kelebihan tenaga”. Itulah kenapa kita sering melihat anak-anak susah untuk diam. Dia akan selalu bergerak, dan mencari keasyikan yang bisa dia lakukan. Jadi arahkanlah “sisa tenaga” yang ada di dalam diri sang buah hati. Hal ini akan sangat bermanfaat supaya emosi mereka bisa diarahkan kepada hal-hal yang positif. Hal ini akan sangat mengurangi pengaruh-pengaruh negatif dari luar yang bisa menyebabkan mereka gampang marah, bosan, sedih, dan sifat-sifat lainnya.

  • Jadilah orang tua yang bijak

Orang tua yang bijak mempunyai kepekaan terhadap buah hatinya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memberikan pilihan terbaik kepada sang buah hati. Yang terbaik bagi anak, kadang bukanlah yang terbaik bagi orang tua. Disinilah terkadang kita temukan kesalahpahaman antara orang tua dan anak. Agar pilihan orang tua dan anak bisa selaras, perlu sekali adanya komunikasi yang intens. Disinilah waktu anda sangat dibutuhkan. Bukan banyaknya waktu yang anda berikan kepada anak, melainkan kualitas kebersamaan anda pada anak. Dari kedekatan inilah, anda akan semakin memahami buah hati anda. Sehingga pemikiran kita dengan sang buah hati kita pun bisa menyatu, dan meminimalisir kesalahpahaman yang biasanya terjadi karena adanya “batas” antara orang tua dan anak. Dan dari kedekatan inilah, anda bisa menasehati anak dengan bijak.

  • Tidak Mempermalukan Anak di Depan Umum

Saat menasehati anak, akan lebih baik bila kita menasehatinya di tempat yang rahasia dan dengan suara lembut. Jangan memberikan larangan, melainkan himbauan. Jangan berkata,”Kamu tidak boleh menggambar di tembok”, tetapi katakanlah ”Kalau kamu suka menggambar besok mama belikan buku gambar yang besar.” Mengharapkan anak berubah dengan mempermalukan mereka di tempat umum bukanlah cara menasehati yang baik. Karena pada saat itu juga, kita sudah mengajarkan kepada anak kalau mempermalukan orang lain di tempat umum adalah sesuatu yang wajar dan halal.

  • Tidak Memaksa

Kita harus belajar mengatakan sesuatu kepada buah hati kita dengan lembut tanpa ada unsur pemaksaan. Kita harus belajar mengajak daripada menyuruh. Kenapa? Karena menyuruh berarti meminta seseorang melakukan sesuatu dan itu harus dilakukan sedangkan kita sendiri tidak mau melakukan hal yang sama. Sedangkan mengajak, adalah meminta seseorang melakukan sesuatu dan mau menjadi satu dengan orang yang kita minta dengan prinsip kebersamaan.

  • Saat Yang Tepat Saat menasehati

Waktu yang tepat adalah sesuatu yang penting dan perlu kita perhatikan pada saat kita hendak menasehati buah hati kita. Pilihlah saat yang tepat dimana kita bisa mentransfer “ilmu moral” kita kepada buah hati kita, tanpa dia merasa terpaksa. Contohnya adalah dengan mengajak sang buah hati untuk jalan-jalan. Setelah dia merasa senang, dan merasa lapar, anda bisa mengajak makan bersama. Dan pada saat itulah anda bisa mengobrol dan mengatakan harapan-harapan anda pada sang buah hati. Misalnya dengan mengatakan,”Mama suka kalau kamu berdandan rapi. Kamu kelihatan cantik sekali.” Atau dengan memujinya,”Wah… Anak mama sudah besar dan tambah dewasa, sudah bisa makan sendiri.” Dengan pancingan-pancingan seperti itu, biasanya anak akan menjadi lebih tertarik untuk mau mendengarkan nasihat anda, sehingga untuk kedepannya mereka pun bisa berubah sedikit demi sedikit.

  • Bersikap seimbang dalam mendidik anak. Tidak terlalu memanjakan, tapi juga tidak terlalu keras.
  • Memberikan hadiah untuk sikapnya yang baik dan memberikan hukuman jika ia melakukan pelanggaran.
  • Senantiasa berusaha untuk membuat hati anak senang dan gembira, tapi tidak berlebihan.
  • Tidak bersikap plin plan, dalam artian tidak menyuruh anak atau membiarkan anak melakukan sesuatu, tapi kemudian melarang anak melakukan hal tersebut di lain waktu.

http://www.rumahbunda.com/wp-content/uploads/et_temp/anak-suka-melawan-26258_238x238.jpg

Be Sociable, Share!
13 Komentar
Wahyudi adiningrat
2013-05-11 22:49:23

Trma ksh. Artikelx bagus sekali, stlh membaca dan memahami semoga saya bisa menjadi org tua yg baik dan bisa mengarahkan anak2 saya. Anak adlh amanat jd kewajiban kita untk mendidik mereka.

fandy
2013-05-08 11:09:53

mksih ea…. ini sngt membantu

cici lubis
2013-04-03 11:58:48

thank,s ya bun untuk teks nya smoga saya bisa belajar dr artikel ini

fita
2013-04-01 22:56:16

Bun..anak saya bulan juni ini berusia 4th,anak saya memang kadang2 suka menentang tp tdk sering,cuma saya hanya bingung klo dia sudah menentang dan marah+nangis itu bisa berlangsung lama 1/2 – 1 jam..diksh tau dia menentang terus,msl”;ayo,nak qta tdr sdh mlm bsk pagi mau skolah,klo mau nonton sampai malam boleh tp klo kmu libur skolah” tp dia malah marah dan minta nonton sampai mlm skrg jg,wlwpun sya sudah ksh pengertian sama dia pelan2 tp dia ttp tdk mau dgr,malah trz marah lalu saya blg”klo kmu mau nntn ya sdh trsrh kmu,tp mama mau tdr,dia malah mrh dan jd memukuli saya,krna tkt saya mulai ksl dan memukul dia akhirnya say blg”ya sudah klo msh mau pukul mama,pukul sja sepuas kamu,mama capek” kdg saya bingung apa yg hrs saya lakukan lg biar dia itu dgr dan berhenti mengoceh dan nangis,dgn cara lembut sudah tp tdk mau dgr,kdg sya depresi dan menyalahkan diri sya sndri krna tdk bisa jd ibu yg baik..saya bnr2 tdk tau lagi apa yg hrs saya lakukan jika anak saya sdg mulai menentang,mrah,ngoceh n dan nangis seperti itu..kdg dia kata2 dia itu seperti org dewasa dgn kata2 yg bgt dalam,membuat saya jd +merasa saya bnr2 bukan ibu yg baik…apa yg hrs saya lakukan bun..terima kasih

larasagis
2013-03-31 22:17:45

setuju dgn artikel diatas. sebab saya mengalami sendiri. tapi gimana klu anak meminta sesuatu pasti nangis klu gak kita turutin maunya. ujung2nya saya sgg ibu kesal juga.

Erna
2013-02-24 20:58:36

Bund …artikelnya good tp bgmn caranya kalo sdh terlanjur slah kerna anaknya sdh sma dan susah sekali kalo di beritahu sesuatu selalu saja ditentang….tks

admin
2013-02-26 13:21:30

@bu erna : tidk ada kta terlambat. U mengatasi anak apapun masalaahnya yg perlu kita lakukan adLah meningkatkan kesabaran tp tetap tegas dan yg utama adalah doakan selalu…
Elus kepalanya dan doakan dia. Minta dia u menngaminkan setiap doa yg kita panjatkan n bisikkan di telinganya.

FITRI
2013-02-12 11:05:50

Selalu belajar menjadi orang tua yang bijak, dalam menghadapi tingkah pola anak yang maunya bermacam-macam, tks artikelnya byk masukan yang akan menjadi pelajaran.

maya sandra wati
2013-05-20 07:30:15

bagaimana cari ataasi anak remaja

nuhrida hasan basri
2013-01-23 21:58:22

Very good artikelnya sanagt menolong

aini qonita
2013-01-20 11:46:28

artikenya pas bund dg aq ortu pemula ijin share ya..makasih

admin
2013-01-21 14:58:01

ya mb aini,.mksh.

linda
2012-06-21 21:55:44

bunda,, artikel yg sangat bagus sekali.. ijin share ya :)

Leave a Reply

Komentar hanya untuk artikel terkait.
Dilarang melakukan segala bentuk promosi!

© 2007-2012 pondokIBU.com "Inspirasi Ibu Membentuk Keluarga Bahagia dan Berkarakter!"
POWERED BY LantaburaMedia & WordPress