happy

Akhirnya, sang pangeran dan putri pun menikah, dan mereka hidup bahagia….

Dongeng-dongeng seperti itu dulu kerap membuat saya menangis haru. Betapa bahagianya, bisa menikah dengan seseorang yang kita cintai, seseorang yang kita inginkan untuk bersama kita. Seperti kisah sang putri dan pangerannya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, dan semakin banyak kehidupan yang saya baca, saya mulai menemukan sebuah fakta: menikah bukan akhir, namun sebuah awal. Ya, sebuah awal. Salah jika menikah menjadi ending dalam sebuah cerita. Hanya sepenggal episode, karena kehidupan terus berlanjut.

Apakah dengan menikah, lantas kita bahagia? Belum tentu.


Saya banyak menemukan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia. Padahal, pelakunya adalah orang-orang yang sering kali kita anggap mereka sebagai orang yang seharusnya bahagia. Yang wanita cantik, yang pria tampan. Sama-sama kaya dan memiliki karir sukses. Atau artis. Kehidupannya glamour, penuh dengan harta, semua yang diinginkan bisa dengan mudah didapatkan.

Tapi, apa?

Perceraian. Lagi-lagi itu yang menjadi konsumsi publik. Lihat saja infotainment. Bukankah kebanyakan membahas soal perceraian artis?

Ternyata, indah fisik saja tak cukup untuk membuat kita bahagia dalam pernikahan. Banyak harta juga bukan jaminan untuk membeli kebahagiaan pernikahan. Ketenaran bukan pula hal yang dapat membuat kita bahagia selamanya! Cinta? Apalagi cinta. Pernikahan tidak butuh hanya sekedar cinta. Karena cinta bisa pudar termakan oleh waktu. Semua itu hanya semu…

Lalu apa?

Jawabannya adalah ikhlas dan rasa syukur. Tanpa dua hal ini, apa-apa yang kita miliki, kita dapatkan saat ini hanyalah sesuatu yang semu.

Kita tidak akan bahagia, jika kita tidak mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Kita tidak akan bahagia, jika kita tidak ikhlas dengan apa yang kita miliki saat ini. Kita mungkin saja memiliki uang yang banyak di bank. Kita memiliki pasangan yang “sempurna” dan didambakan semua orang. Tapi, jika kita tak memiliki rasa syukur, maka apalah artinya semua itu?

Mari kita syukuri dan ikhlas atas apa yang telah Allah berikan untuk kita. Suami yang sholeh dan bertanggungjawab, syukurilah dan ikhlas, meski dia  tak romantis. Anak-anak yang sehat dan cerdas, syukurilah dan ikhlaslah, meski mereka seringkali membuat Anda merasa lelah dan kewalahan.

Izinkan saya menuturkan sebuah kisah pilu…

Saya mengenal Fulanah sebagai wanita yang cantik fisiknya, kaya raya, dan menjadi idola banyak pria. Dia telah menikah, memiliki 3 orang anak yang semuanya cantik-cantik. Melihat latar belakang kehidupan pernikahannya, saya merasa, seharusnya orang seperti Fulanah ini bahagia.

Apa yang kurang darinya?

Suaminya lelaki yang baik, bertanggungjawab, memberinya nafkah yang lebih dari cukup. Bisnisnya sukses dan memiliki banyak pelanggan. Dan dia cantik.

Tapi, mengapa tiba-tiba saja ia memutuskan untuk bercerai dari suaminya?

Wanita ini rupanya telah kehilangan rasa syukurnya. Coba pikirkan, seorang wanita yang telah menikah, asyik bertelepon ria dengan lelaki asing. Ketika suaminya menyatakan rasa cemburunya, bukannya ia segera menghentikan semua itu dan meminta maaf, melainkan justru semakin memanas-manasi suaminya. Masya Allah….

Hingga akhirnya, suaminya pun melakukan “pembalasan” dengan memiliki teman wanita yang bisa diajak mengobrol dan chatting. Wanita ini pun kelimpungan dan akhirnya terkena batunya. Dan karena itulah ia menuntut cerai.

Gemas? Tentu saja. Sebagai sesama wanita saya sangat menyayangkan. Bagaimana tidak? Dia yang tidak bisa menjaga dirinya. Dia yang memancing-mancing dan membuat suasana yang adem ayem menjadi keruh.

Mengapa tidak mencoba mensyukuri apa yang ada? Mengapa harus menunggu sampai pecah perang dulu?

Semoga ini dapat menjadi renungan bagi kita semua…