Sekarang ini banyak anak yang malas untuk belajar. Begitu mendengar kata “belajar”, anak-anak pasti segera mencari berbagai alasan untuk menghindarinya. Akibatnya belajar hanya akan menjadi acara yang kepepet dilakukan atau terpaksa karena mau menghadapi ujian. Itu pun kalau bukan didorong atau dipaksa orang tuanya, belum tentu si anak mau belajar.

Mereka pasti lebih suka bermain dengan teman-teman, bermain komputer atau internet (seperti facebook, twitter dan lain-lain) atau bermain video game ketimbang disuruh belajar. Bagi mereka, belajar merupakan sesuatu yang membosankan.

Dari yang saya lihat di sekitar lingkungan saya, anak yang disuruh belajar cuma akan membuka buku dan membaca sebentar. Atau cuma mengerjakan PR, lalu ditutup dan ditinggalkan. Kalau si anak ditanya, dia pasti menjawab kalau dia sudah belajar.

Apakah belajar itu memang hanya membaca sekilas dan mengerjakan PR? Kalau seperti itu, bagaimana pengetahuan si anak bisa bertambah? Bagaimana pelajaran sekolah si anak bisa terserap? Paling-paling juga cuma selintas yang bisa dia serap.

Membayangkan disuruh belajar saja sudah membuat si anak tertekan atau stres. Akibatnya suasana hatinya untuk belajar jadi hilang dan si anak menjadi malas untuk memulai  belajar. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi?

Pemikiran anak terbentuk dari asumsi-asumsi yang diambil dari informasi-informasi atau pun pengalaman yang dialami si anak tanpa dikritisi terlebih dahulu. Berarti, itu semua kembali pada cara pandang kedua orang tua, guru, dan lingkungan sekitar.

Salah satu hal yang sering menghambat anak rajin belajar adalah pandangan ideal kedua orang tua atau guru terhadap kenyataan yang ada pada diri si anak. Mereka hanya memandang keburukan-keburukan si anak. Mereka malah gagal menunjukkan nilai-nilai positif, harapan dan kelebihan-kelebihan si anak.

Jika itu yang terjadi, maka si anak tidak akan termotivasi menjadi lebih baik. Padahal kesuksesan seorang anak tergantung bagaimana kita memandang dan meyakini kelebihan dan kekurangan seorang anak. Dengan begitu sang anak termotivasi menjadi sukses.

Pemberian “label” positif oleh kedua orang tua akan berkembang menjadi hal-hal yang positif dalam diri si anak. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Bila potensi dan kelebihan anak belum Nampak, maka kita hanya perlu bersabar. Dengan terus menggali potensi-potensi terpendam dalam diri si anak, lama-kelamaan potensi-potensi itu bisa muncul dan terus berkembang.